Blok Masela Dukung Target Ketahanan Energi dan NZE 2060

Rabu, 6 Desember 2023 | 16:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pengembangan Blok Masela di Laut Arafura, Maluku Tenggara, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendukung ketahanan energi nasional dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan, Blok Masela sendiri memiliki cadangan gas sebesar 2,3 triliun standar kaki kubik (TSCF), yang berpotensi menghasilkan gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (bcf/d).

"Gas tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, terutama untuk pembangkit listrik, industri, dan transportasi," ujar Tutuka dalam keterangan tertulis, Rabu (6/12/2023).

Tutuka menyebut, pada 28 November 2023 pemerintah menyetujui Revisi 2 Rencana Pengembangan Lapangan yang Pertama (POD I) Lapangan Abadi di WK Masela.Adapun revisi 2 menggabungkan kegiatan Carbon Capture Storage (CCS) ke dalam ruang lingkup proyek untuk menangkap CO2 asli dan menyimpannya kembali di Lapangan Abadi. Target awal proyek ini adalah pada tahun 2030.

Ia berharap pengembangan Lapangan Abadi segera dilaksanakan karena sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai target NZE. Gas alam adalah sumber energi yang lebih bersih, dan penggunaan gas alam dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. "INPEX dapat melaksanakan kegiatan pengembangan Lapangan Abadi sesuai POD," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Total cadangan gas Lapangan Abadi adalah sebesar 18,54 TSCF dengan kumulatif produksi gas 16,38 TSCF (gross) atau 12,95 TSCF (sales) dan kondensat 255,28 MMSTB. Kapasitas produksi 1.600 MMSCFD + 150 MMSCFD (pipeline), kondensat 35.000 BCPD.

Pemegang Partisipasi Interes WK Masela saat ini adalah Inpex Masela Ltd (65%) sekaligus sebagai operator; PT Pertamina Hulu Energi Masela (20%); dan Petronas Masela Sdn. Bhd (15%). Kontrak Kerja Sama WK Masela ditandatangani pada tanggal 16 November 1998 untuk jangka waktu 30 tahun dengan 7 tahun kompensasi dan 20 tahun perpanjangan. Kontrak akan berakhir pada 15 November 2055.

Tutuka menambahkan, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pengembangan Blok Masela dapat berjalan lancar dan tepat waktu. Kementerian ESDM mencatat biaya investasi dan operasi pengembangan proyek LNG Blok Masela menyentuh di angka US$34,74 miliar setara dengan Rp 535,96 triliun.

Perkiraan biaya untuk rencana pengembangan itu meliputi biaya investasi d luar sunk cost sebesar US$ 20,94 miliar termasuk didalamnya investasi CCS sebesar US$1,08 miliar, biaya operasi US$12,97 miliar dan biaya Abandonment and Site Restoration (ASR) sebesar US$830 juta. kbc11

Bagikan artikel ini: