Menguak Biang Inflasi 2024 yang Diramal Meningkat

Rabu, 13 Desember 2023 | 08:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hasil Survei Penjualan Riil Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Januari 2024 sebesar 139,1 atau menurun dari 150,6 pada periode sebelumnya.

BI menyebut penurunan IEP Januari 2024 ini sehubungan dengan normalisasi, karena berakhirnya momen hari besar keagamaan Natal dan liburan akhir tahun 2023.

Meski demikian, BI melihat ada potensi kenaikan tekanan inflasi pada Januari 2024. Ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) Umum Januari 2024 yang sebesar 133,1 atau naik dari 131,2 pada periode sebelumnya.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai, potensi peningkatan inflasi di tengah prospek penurunan penjualan ritel sehubungan dengan risiko inflasi dari sisi suplai.

"Ini murni karena ada peningkatan harga barang-barang. Jadi, bukan dari sisi permintaan. Tapi murni dari sisi suplai," ujar Riefky seperti dikutip, Selasa (12/12/2023).

Riefky bilang, kenaikan harga barang, terutama pangan, datang dari fenomena kekeringan atau El Nino yang terjadi di daerah-daerah di Indonesia.

Dengan demikian, Riefky mengimbau agar pemerintah tetap fokus dalam progres menjaga stabilitas harga pangan untuk tetap menjangkar inflasi.

Pasalnya, stabilitas harga juga sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain dari pemerintah, peran BI juga tak ketinggalan. Upaya stabilisasi nilai tukar rupiah diperlukan untuk menjaga inflasi barang impor (imported inflation) tak menyundut inflasi umum.

Meski demikian, Riefky memperkirakan inflasi pada sepanjang tahun 2024 tak akan setinggi tahun 2023.

Dari perhitungannya, inflasi pada tahun depan akan berada di kisaran 2,5% yoy hingga 2,8% yoy, atau lebih rendah dari outlook tahun ini yang sebesar 3% yoy.

Sementara itu Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, salah satu risiko dari pertumbuhan belanja masyarakat pada tahun depan adalah inflasi. 

"Kondisi inflasi masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena ekspektasi inflasi cenderung akan lebih tinggi dari 2023," terang Josua.

Josua pun memerinci beberapa hal yang bisa mendorong peningkatan ekspektasi inflasi pada tahun depan.  Seperti, dampak dari fenomena kekeringan panjang atau El Nino ke harga pangan. Kemudian ada juga penyesuaian tarif cukai yang akan menyundut inflasi.

"Dengan kondisi tersebut, harus dipastikan bahwa inflasi harus tetap dikendalikan dengan baik," tegas Josua.

Nah tentu saja kebijakan pemerintah tak bisa jalan sendiri. Kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga pergerakan rupiah juga diperlukan.

Ini untuk menjaga inflasi barang impor (imported inflation) yang diharapkan tidak mendongkrak biaya input barang secara signifikan. Meski demikian, Josua tetap yakin pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada tahun 2024 akan tetap solid.

Selain karena upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan BI, dia juga melihat adanya kenaikan upah minimum provinsi akan memberi daya dorong bagi daya beli masyarakat. kbc10

Bagikan artikel ini: