Siap-siap! Harga Tiket Pesawat ke LN Bakal Naik 5 Persen, Domestik?

Rabu, 24 Januari 2024 | 16:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia National Air Carrier Association (INACA) memproyeksikan harga tiket pesawat rute penerbangan internasional akan mengalami kenaikan tipis sekitar 3%-5% di tahun 2024. Hal ini sejalan karena harga bahan bakar minyak (BBM) atau avtur yang juga mengalami kenaikan.

"Untuk memproyeksikan harus ada asumsi. Asumsinya, harga BBM akan naik, karena ada perang Ukraina-Rusia yang nggak selesai-selesai, kemudian ada konflik baru Israel-Hamas, kemudian juga ada konflik Yaman di Laut Merah kemarin ya walaupun sebentar saja. Karena minggu yang lalu sempat harga fuel BBM naik 3%-4%," kata Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto seperti dikutip, Rabu (24/1/2024).

Tak hanya harga avtur yang mengalami kenaikan, adanya inflasi yang terjadi setiap tahun juga menyebabkan kenaikan pada harga tiket pesawat.

"Kemudian juga karena ada inflasi, setiap tahun itu kan selalu terjadi inflasi. Ya pastinya akan naik dong. Proyeksi (tarif tiket penerbangan internasional) akan naik, walaupun kecil ya, 3%-5% menurut hemat saya," ujarnya.

Bayu juga menjelaskan, penetapan harga tiket pesawat yang bersifat dinamis juga menjadi salah satu penyebab kenaikan harga, khususnya harga tiket pesawat di momen liburan.

"Untuk tiket internasional, ya, akan ada kenaikan. Khususnya pada saat musim liburan. Demand dan supply. Kalau anda perginya di bulan Juni-Agustus ya mahal semua tiketnya, karena pas liburan summer. Apalagi di tahun ini juga masih masa pasca pandemi, sehingga orang masih ingin berpergian. Di mana pada saat pandemi kan nggak bisa berpergian," jelasnya.

"Dynamic (dinamis) ya harga tiket pesawat, karena tergantung pasar. Mekanisme pasar itu mekanisme ketersediaan dan permintaan. Kalau anda pergi Sabtu atau Minggu dibanding pergi Selasa ya harganya akan lain," lanjut dia.

Selain itu, kata Bayu, saat ini kondisi penerbangan dunia sama halnya seperti Indonesia, di mana jumlah armada pesawat yang masih belum sepenuhnya pulih, sehingga suplainya berkurang.

"Saat ini kan di dunia tengah terjadi sama seperti di Indonesia, jumlah pesawat atau suplai nya berkurang juga. Armada yang masih belum pulih," ungkapnya.

Sementara untuk penerbangan domestik, Bayu mengaku tidak bisa memproyeksikannya, lantaran tarif tiket penerbangan domestik diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

"Untuk tarif tiket domestik itu diatur oleh pemerintah, yaitu Permenhub Nomor 20 tahun 2019, di mana ada tarif batas atas dan tarif batas bawah, dan masih berlaku. Jadi ya pedomannya masih itu, walaupun dari pihak asosiasi maupun maskapai pengen itu dinaikkan karena tidak sesuai dengan kenaikan harga avtur maupun kurs US$," terang dia.

"Kita bermain di kisaran itu saja. Kalau mau bergerak di kisaran yang atas mungkin, (tapi hanya) pada saat musim liburan. Tapi kan masih di ketentuan TBA," imbuhnya.

Sebelumnya mengutip laporan Tren Global FCM Consulting untuk kuartal ketiga tahun 2023, harga tiket pesawat global diperkirakan akan naik antara 3%-7% karena maskapai penerbangan bergulat dengan biaya bahan bakar yang tinggi, perubahan keberlanjutan, dan peningkatan armada.

Sementara, Asosiasi Transportasi Udara Internasional, IATA, memperkirakan kapasitas penerbangan global diperkirakan akan pulih, dengan sekitar 40 juta penerbangan atau naik dari 38,9 juta dibandingkan 2019. Dan diproyeksikan membawa rekor 4,7 miliar orang atau naik dari 4,5 miliar orang pada 2019. kbc10

Bagikan artikel ini: