Mahalnya Harga Beras Mulai Bikin Pengusaha Mamin Kelimpungan

Selasa, 20 Februari 2024 | 09:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kenaikan harga beras dalam beberapa bulan terakhir mulai mengganggu industri makanan dan minuman (mamin). Hal ini karena berpengaruh terhadap masyarakat secara umum.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan, harga beras yang saat ini melambung tinggi memang disebabkan karena adanya ketersediaan yang sedikit terganggu.

Namun diungkapkan Adhi, pemerintah sudah berjanji untuk mengatasi hal ini. Meskipun tidak bisa dihindari karena adanya pengaruh global maka kenaikan harga ini bukan hanya terjadi pada beras namun juga pada beberapa bahan lain seperti gula yang pada akhirnya juga memberikan pengaruh terhadap produk seperti susu yang juga sedikit meningkat karena faktor geopolitik dan climate change tersebut.

"Nah, ini pasti berpengaruh terhadap pangan olahan. Karena income masyarakat tetap. Namun demikian mereka lebih memprioritaskan pangan pokok sebagai kebutuhan utama. Sehingga ini akan sedikit berpengaruh terhadap pengeluaran mereka untuk pangan-pangan sekunder," katanya seperti dikutip, Selasa (20/2/2024).

Oleh sebab itu menurut Adhi, pihaknya harus mengantisipasi agar daya beli masyarakat bisa tetap terjaga. Salah satunya adalah dari industri.

"Kebanyakan kita tidak menaikkan harga terlebih dahulu tahun ini. Meskipun ada beberapa yang menaikkan harga. Tapi saya pantau sebagian besar masih ingin mempertahankan harga supaya daya beli masyarakat masih bisa terjaga. Ini sangat penting sekali. Karena kalau kita ikut naik harga, bahan pokok naik harga, masyarakat sangat terganggu. Apalagi dengan lebaran dan puasa ini," imbuhnya.

Meski demikian, Adhi bilang, ada beberapa produk pangan yang mungkin tidak mengalami kenaikan harga untuk mengimbangi kenaikan harga bahan pangan pokok tersebut. Produk-produk itu diantaranya, mie instan, kemudian makanan dan minuman yang biasanya aling banyak dikonsumsi saat Ramadan dan Lebaran seperti sirup, nata de coco, makanan kolang-kaling, kurma, dan juga biskuit.

"(Intinya) Kita industri rata-rata ingin memberikan yang terbaik untuk konsumennya, sehingga kita pantau harga tidak terlalu melonjak. Beda dengan pangan pokok yang tidak bisa dihindari karena ini bukan dikendalikan oleh industri. Kalau industri masih bisa mengurangi margin, masih bisa memikirkan jangka panjang," tuturnya.

"Tapi kalau pangan pokok ini kan langsung ya, secara langsung, dan mau tidak mau, kalau harga naik, mereka tidak punya cadangan untuk mengelola kenaikan tersebut. Sehingga mau tidak mau langsung berpengaruh terhadap harga jual seperti itu," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: