Jelang Ramadan, RI Butuh Impor Garam 500 Ribu Ton

Rabu, 21 Februari 2024 | 08:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman menyebut Indonesia masih membutuhkan impor garam sekitar 400 sampai 500 ribu ton menjelang bulan Ramadan tahun ini.

Awalnya, Adhi memastikan bahwa stok produk pangan dan olahan menjelang Ramadan telah mencukupi bahkan hingga ke pelosok daerah. Namun diakuinya, untuk garam dan beras pecah kulit, Indonesia masih harus mengimpor keduanya.

"Kebutuhan garam kita sebetulnya sangat kecil sekali kalau dari persentase di produk ya, apalagi dari harga pokok. Tapi kita bisa bayangkan tanpa garam akan sulit kita menerima rasa yang sudah menjadi standar kebutuhan konsumen kita. Apalagi untuk ekspor ya, itu kita sangat membutuhkan bahan baku tersebut," jelas Adhi, dikutip Rabu (21/2/2024).

Meski Indonesia negara pesisir, namun tidak semua air laut bisa menjadi garam. Menurutnya, diperlukan spek khusus dari industri makanan dan minuman untuk menerap garam lokal tersebut.

"Tapi tidak semua bisa karena speknya berbeda. Terutama spek NACL, kemudian MG-nya, CA-nya dan lain sebagainya itu agak berbeda untuk kebutuhan-kebutuhan khusus tersebut. Kira-kira kita butuh sekitar 400-500 ribu ton. yang harus diimpor ya," terangnya.

Adhi pun menyampaikan, untuk mengatasi hal ini, pihaknya juga ada upaya untuk mengolah air laut di beberapa daerah agar bisa menjadi garam yang bisa digunakan industri makanan dan minuman.

"Dengan proses yang sudah di ini, dan mudah-mudahan ini bisa menambah pasokan kebutuhan garam yang harus diimpor dari dalam negeri. Tapi kita harus akui masih sangat kurang," imbuhnya.

Selain garam, Adhi menuturkan, Indonesia juga harus mengimpor beras pecah kulit untuk memenuhi bahan baku industri bihun dalam negeri. Selain itu, beras pecah kulit juga digunakan untuk industri bahan snack-snack yang terbuat dari beras. Katanya, di dalam negeri saat ini ketersediannya sudah tidak ada.

Bahkan diakui Adhi, dirinya sudah menghubungi Bulog. Namun Bulog dan industri-industri dalam negeri juga mengaku tidak memiliki pasokan beras pecah kulit tersebut.

"Jadi dua komoditi ini masih terkendala. Kami sudah koordinasi dengan Kementerian Perdagangan. Mudah-mudahan Kementerian Perdagangan bisa segera mengeluarkan izin importnya. Karena neraca komoditasnya sudah jelas, rekomendasinya sudah jelas, sehingga tinggal PI nya, persetujuan impor nya segera dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan agar tidak mengganggu. Karena ini sangat rawan sekali," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: