Menyibak Tantangan dan Peluang dari Resesi Ekonomi Jepang

Rabu, 21 Februari 2024 | 09:58 WIB ET

SEJUMLAH pihak menilai resesi ekonomi yang melanda Jepang dinilai tidak akan memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian Indonesia, justru dapat menjadi peluang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, dari sisi perdagangan, perlambatan ekonomi Jepang akan memukul perekonomian Indonesia. Hal ini mengingat Jepang merupakan salah satu negara mitra dagang utama Indonesia.

Kendati begitu, Airlangga melihat, perekonomian Indonesia berpotensi mendapat keuntungan dari sisi penanaman modal tetap bruto (PMTB) atau investasi.

Menurutnya, Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan utama yang akan menjadi incaran para investor Jepang untuk berinvetasi. Dengan begitu, Indonesia juga berpotensi menerima aliran investasi dari Negeri Sakura tersebut.

"Mereka akan melihat yang salah satu region yang masih bisa tumbuh adalah ASEAN. Jadi justru dengen resesi disana, saya berharap investasi dari sana akan semakin mengalir," ujar Airlangga.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan, resesi Jepang mungkin akan memberikan tekanan terhadap kinerja ekspor, tetapi dampak tersebut tidak akan signifikan.

"Tekanan utamanya akan terjadi dari sisi ekspor, tapi tidak akan terlalu besar karena Jepang, asumsi saya, akan menggelontorkan stimulus fiskal untuk mendongkrak aggregate demand di level domestik," katanya.

Ronny mengatakan, dampak yang lebih besar justru dari perlambatan ekonomi China, yang merupakan negara mitra dagang utama Indonesia.

Oleh karena itu, dia menilai bahwa Indonesia harus mulai melirik negara-negara yang ekonominya sedang bagus sebagai calon mitra dagang strategis ke depannya, terutama India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

Dari sisi investasi, Ronny mengatakan, saat ini justru merupakan momentum yang tepat menggaet sebanyak-banyaknya investor Jepang, Uni Eropa, dan China ke Indonesia.

Hal ini dikarenakan Jepang dan China berpeluang menambah stimulus untuk mengerek permintaan domestiknya dan semakin menekan suku bunga perbankan yang akan melonggarkan likuiditasnya.

Sementara jika paket stimulus diluncurkan, imbuhnya, maka aggregate demand di Jepang tidak akan terlalu tertekan sehingga permintaan atas impor Indonesia dan Asean tidak akan terlalu tertekan.

"Karena situasi domestiknya terkontraksi, peluang investor Jepang mencari lahan investasi di Indonesia yang pertumbuhannya masih sangat positif tentu semakin besar," jelasnya.

Sementara itu Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, resesi di Jepang dan Inggris bisa menurunkan permintaan barang dari Indonesia ke kedua negara tersebut. Begitu juga dengan investasi perusahaan Jepang dan Inggris yang tampaknya akan berkurang.

"Geliat ekonomi yang lesu di Jepang akan membuat daya dorong investasi perusahaan menurun," ujar Huda.

Dengan begitu, investasi dari perusahaan Jepang dan Inggris akan menurun. Oleh karena itu, investasi yang ada di kedua negara tersebut akan keluar dan mencari tempat investasi baru yang mempunyai cost yang rendah dan kesiapan yang baik.

"Ini harus dilihat juga oleh pemerintah untuk bisa menarik investasi tersebut," katanya.

Menurut Huda, ada dua langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pertama, membuka pasar ekspor selain negara tradisional seperti China dan Jepang. 

"China sendiri diprediksi melambat pertumbuhan ekonomi-nya. Artinya pasar ekspor (meskipun kecil pengaruh ke PDB) bisa tersendat apabila tidak ada pasar ekspor alternatif," katanya.

Kedua,  dengan resesi di Jepang dan kemungkinan perlambatan di negara maju lainnya, Indonesia harus bisa menampung perusahaan yang pindah dari negara-negara tersebut. 

"Tapi saingannya adalah Vietnam. Maka kita harus siapkan infrastruktur (secara fisik maupun regulasi) yang bisa menarik investasi tersebut ke Indonesia," tandasnya.

Senada, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky mendorong pemerintah dalam hal ini Kementerian Investasi/BKPM untuk aktif menarik peluang investasi dari negara-negara tersebut.

"Tidak otomatis investasi masuk ke Indonesia tapi perlu ada langkah aktif dari pemerintah untuk mempromosikan investasi di Indonesia dan mempermudah investor berinvestasi di Indonesia," terang Riefky. kbc10

Bagikan artikel ini: