Duh! Mentan Akui RI Berada Dalam Darurat Pangan

Rabu, 13 Maret 2024 | 22:32 WIB ET
Menteri Pertanian Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Amran Sulaiman

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengakui Indonesia saat ini memasuki darurat pangan. Anomali iklim El Nino membawa dampak terhadap bergerusnya areal penanaman padi yang pada gilirannya mengakibatkan meroketnya harga beras akibat anjloknya produksi padi petani.

Untuk lantaran luas sawah padi selama Oktober 2023 sampai Februari 2024 berkurang 1,9 juta hektar (ha). Jumlah tersebut menyusut hingga 26,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2015-2019 yang bisa mencapai 7,44 juta ha. "Penurunan luas tanam ini tentunya sangat berpengaruh luas panen yang berdampak pada penurunan produksi padi yang dihasilkan," ujar Amran saat Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (13/3/2024).

Selain itu, produksi padi menjadi tidak optimal karena volume pupuk bersubsidi berkurang 4,7 juta ton atau 50% dari alokasi pupuk bersubsidi tahun sebelumnya yang sebanyak 9,55 juta ton. Sementara 20% petani tidak bisa menggunakan kartu tani. Hal ini menyebabkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebanyak 30 juta petani tidak boleh menerima pupuk.

"Tidak semua petani mendapatkan akses pupuk seperti LMDH," kata Amran.

Kemudian, penurunan produksi juga disebabkan oleh cuaca ekstrem El Nino yang masih berlangsung sampai hari ini yang menyebabkan harga beras naik sekitar 56%. "Namun kami memastikan bahwa kebutuhan beras bulan Maret-Mei 2024 dalam kondisi aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan pangan selama Ramadhan dan Idul Fitri 1445H," tuturnya.

Sebagai informasi, penurunan produksi padi ini dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat produksi beras nasional pada 2023 diperkirakan turun menjadi 31,1 juta ton dari sebelumnya 31,54 juta ton pada 2022. Sementara Kementan menargetkan produksi beras pada 2024 mencapai 32 juta ton sehingga produksi padi perlu digenjot di tahun ini.

Atas hal tersebut, pihaknya telah menyusun solusi cepat peningkatan produksi padi 2024, yaitu dengan mengembalikan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton. Kemudian, petani dimudahkan dengan pengambilannya boleh menggunakan KTP.

Kedua melakukan perluasan area tanam pompanisasi air sungai di 11 provinsi untuk lahan sawah. Khususnya pulau Jawa 500 ribu ha dan luar Jawa 500 ribu ha bila areanya mencukupi dan tanam padi gogo seluas 500 ribu ha.

"Kementan juga berkoordinasi dengan PUPR untuk pompanisasi di saluran primer dan sekunder dan ketiga Kementan melakukan optimalisasi lahan rawa seluas 400 ribu ha di 10 provinsi untuk menambah luas areal pertanaman padi," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: