Tambah Insentif Rp81 Triliun, Bos BI Minta Bank Tak Kerek Suku Bunga Kredit

Jum'at, 10 Mei 2024 | 08:44 WIB ET
Gubernur BI Perry Warjiyo
Gubernur BI Perry Warjiyo

JAKARTA, kabarbisnis.com: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berharap perbankan tidak menaikkan suku bunga kredit atau pinjaman meski suku bunga acuan atau BI Rate naik menjadi 6,25 persen pada April 2024 lalu.

"Bagi bank-bank, tidak ada keperluan untuk menaikkan suku bunga kredit. Itu kan kita sudah takar-takar, kami melihat tidak ada keperluan untuk menaikkan suku bunga kredit, karena likuiditasnya kita tambahkan," ujar Perry seperti dikutip, Jumat (10/5/2024).

Dia menjelaskan, meski BI Rate naik, pihaknya akan menambah dan memperluas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Perluasan cakupan sektor prioritas KLM dengan menambahkan sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estate produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, listrik gas air bersih (LGA), dan jasa sosial, serta penyesuaian besaran insentif untuk setiap sektor yang berlaku mulai 1 Juni 2024.

Perry pun menegaskan akan ada tambahan likuiditas perbankan sebesar Rp81 triliun, sehingga total insentif menjadi Rp246 triliun.

Sementara tambahan likuiditas dari KLM diprakirakan dapat mencapai Rp115 triliun pada akhir 2024, sehingga total insentif yang diberikan menjadi Rp280 triliun.

"Sehingga secara keseluruhan kenapa kami masih yakin bahwa pertumbuhan kredit tahun ini 11 persen. Pertumbuhan kredit itu masih bisa tercapai dengan tambahan likuiditas," ujar dia.

"Dan bagi bank-bank yang menyerukan kredit bisa menggunakan SBN-nya untuk repo kepada BI dan kepada pasar," imbuh Perry.

Sementara itu Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) BI Nugroho Joko Prastowo menyampaikan, pada semester 2024 nanti, Bank Indonesia masih akan memberikan tambahan insentif senilai Rp34 triliun. Pasalnya, kebijakan makroprudensial ini menjadi jamu manis agar pelaku usaha tetap optimis, perbankan optimis, dan kredit tetap jalan.

Tujuannya menjaga pertumbuhan kredit tetap tinggi dan berdampak pada pergerakan investasi dan menjaga target pertumbuhan ekonomi. "Harapannya kredit terus meningkat, karena ada insentif. Sekarang insentif yang sudah dimanfaatkan bank Rp165 triliun, Juni dapat lagi jadi Rp246 triliun, kita proyeksikan bank semangat lagi, tambah lagi [Rp34 triliun] jadi total Rp280 triliun," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: