Ketua Dewan Eurasia Internasional Tawarkan Kerjasama Pembangunan PLTSa dan Solar Cell ke Pengusaha Jatim

Selasa, 14 Mei 2024 | 15:13 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Dewan Eurasia Internasional sekaligus Wakil Presiden Eksekutif Tiongkok Asosiasi Pembangunan Ekonomi Asia, dan Wakil Presiden Tiongkok Luar Negeri Asosiasi Pembangunan, Liao Bin melakukan kunjungan ke Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Selasa (14/5/2024).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Turino Junaidi, Wakil Ketua Umum UMKM Idris Yahya, Wakil Ketua Umum Bidang Konstruksi M. Rizal dan sejumlah pelaku usaha Jatim.

Selain memperkenalkan Asosiasi yang dipimpinnya, Liao Bin mengungkapkan bahwa kunjungan yang dilakukan untuk mendiskusikan sejumlah proyek yang bisa dikerjasamakan dengan pelaku usaha di Jatim.

Ada tiga proyek yang akan dikerjasamakan, yaitu pembangkit listrik dari pembakaran sampah, proyek teknik infrastruktur serta perdagangan ekspor batubara di Indonesia. "Kami juga memiliki perwakilan di Jakarta. Kami berharap bisa menjalin kerjasama dengan Kadin Jatim," ujar Liao Bin.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, proyek pembangkit listrik dari pembakaran sampah membutuhkan sekitar 600 ton sampah per hari untuk diolah menjadi tenaga listrik. "Kami sudah bertemu dengan Pj. Gubernur Jatim. Beliau mengatakan bahwa di Surabaya ada kelebihan sampah 600 ton sehingga itu bisa menjadi peluang untuk melakukan kerjasama," ujarnya.

Selain dari pengolahan sampah, Liao Bin mengaku pihaknya juga cukup ahli di bidang Solar Cell. Sehingga jika ada potensi pembangunan power plan dari solar cell, mereka akan mempertimbangkan.

Menanggapi tawaran tersebut, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan sangat tertarik, khususnya untuk pembangunan pembangkit listrik pembakaran sampah dan solar cell. Menurutnya, saat ini sudah ada satu pembangkit listrik dari pengolahan sampah yang dibangun di Surabaya, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo.

"Tetapi itu saja saya kira tidak cukup, butuh satu lagi proyek yang sama untuk mengatasi persoalan sampah, khususnya di Surabaya. Saat ini volume sampah yang masuk TPS Benowo mencapai 1.600 ton per hari. Sementara kapasitas PLTSa Benowo hanya mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari. Jadi memang ada kelebihan sampah 600 ton," kata Adik.

Selain PLTSa, pengembangan solar cell juga mulai dilakukan oleh sejumlah industri di Jatim, salah satu industri yang telah menerapkannya adalah PT HM Sampoerna. "Kedepan, JIIPE juga akan membangun power plan solar Cell di dua lokasi, di sisi darat dan di sisi laut," lanjutnya.

Ia mengungkapkan bahwa hubungan antara Jatim dengan China sejauh ini telah terjalin dengan cukup baik. Investasi dari China ke Jatim juga cukup banyak. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), investasi China pada periode 2010 hingga triwulan II-2023 tercatat sebanyak 23 bidang usaha yang tersebar di 8 kabupaten/kota wilayah Jatim dengan nilai investasi sebesar US$ 490,22 juta.

Secara rinci, investasi bidang usaha terbesar China di Jatim secara urut yaitu industri makanan, mineral non logam, logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, serta perdagangan dan reparasi.

"Minggu kemarin Kadin Jatim kedatangan Konjen China di Surabaya untuk membicarakan penguatan ekonomi. Hubungan kita dengan perusahaan China di Jatim sangat baik. Ada sejumlah investor dari China yang baru masuk juga, diantaranya PT Xinyi Glass Indonesia yang ada di JIIPE. Kita saling support. Ketika mereka membutuhkan sesuatu, kitab support," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, WKU Bidang Investasi Kadin Jatim Turino Junaedi memaparkan potensi investasi di Indonesia. Ia menegaskan, bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Saat ini, penduduk Indonesia mencapai 280 juta jiwa.

"Ada beberapa investasi yang kami tawarkan, diantaranya investasi properti seperti pembangunan hunian, rumah sakit, pelabuhan, dan lain sebagainya. Juga ada industri untuk substitusi bahan baku," terang Turino Junaedi.

Industri substitusi, lanjutnya, menjadi industri yang cukup potensial karena saat ini Indonesia selalu berhitung berapa kebutuhan dalam negeri dan berapa yang bisa disupport dari dalam negeri. Sehingga terjadi pembatasan terhadap impor. "Ini adalah peluang untuk membangun perusahaan substitusi. Ini banyak pengusaha China yang telah masuk," lanjutnya.

Potensi lain yang bisa digarap adalah adanya relokasi industri China dari Amerika karena faktor geopolitik. Perselisihan China dengan Amerika telah mengakibatkan banyaknya industri China yang di Amerika direlokasi. "Kalau butuh partner lokal, kami siap untuk membantu," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: