Tak Hanya Ekspor, Impor Logam Mulia RI Makin Kinclong

Kamis, 16 Mei 2024 | 08:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia rupanya cukup getol dalam mengimpor produk logam mulia dan perhiasan atau permata yang termasuk golongan Harmonized System (HS) 71. Pasalnya, impor barang ini mengalami lonjakan pada April 2024, di tengah meroketnya harga logam mulia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) indeks harga logam mulia atau precious metals pada April 2024 telah mencapai 175,83. Padahal, sebelumnya di kisaran 144,91 sejak Januari 2023.

"Karena di tengah tekanan konflik geopolitik khususnya di Timur Tengah logam mulia dianggap sebagai alternatif aset yang lebih aman," kata Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini seperti dikutip, Kamis (16/5/2024).

Volume impor logam mulia dan perhiasan atau permata yang diimpor Indonesia pada April 2024 mencapai 562 ton, naik drastis dari volume impor Maret 2024 yang hanya 293 ton. Pada April 2023 bahkan hanya 350 ton.

Secara nilai, impor logam mulia dan perhiasan atau permata juga naik menjadi US$ 248 juta dari Maret 2024 hanya sebesar US$173 juta. Pada Maret April 2023 nilai impornya hanya sebesar US$152 juta.

Impor logam mulia dan perhiasan/permata sepanjang Januari-April 2024, utamanya berasal dari Australia dengan nilai US$242,16 juta atau mencakup 29,76% dari total impor logam mulia dan perhiasan/permata.

Sisanya berasal dari Hong Kong sebesar US$ 184,39 juta, Swiss sebesar US$130,58 juta, Singapura US$ 91,07 juta, dan lainnya yang sebesar US$165,39 juta atau setara 20,33% dari total keseluruhan impor logam mulia dan perhiasan/permata.

Pudji mengatakan, jenis logam mulia dan perhiasan/permata yang terbesar di Indonesia pada April 2024 adalah emas batangan yang belum ditempa dengan kode HS 71081210 sebesar 1,4% dari total impor.

"Jadi dari sisi impor yang terbanyak itu adalah berupa emas batangan yang belum ditempa," ucap Pudji.

Meski impor besar, Indonesia juga tercatat ekspor logam mulia dan perhiasan atau permata pada April 2024 dengan volume 747 ton dengan nilai US$894 juta. Angka ini turun dari Maret 2024 yang volumenya 1.082 ton dengan nilai US$1.383 juta.

Mayoritas logam mulia dan perhiasan atau permata yang diekspor Indonesia ialah yang tergolong HS 71131990 yang merupakan perhiasan jadi. Besarannya mencapai 1,94% dari total ekspornya.

"Nah jadi dari sisi ekspor secara akumulatif yang banyak kita ekspor ini berupa perhiasan atau permata," ungkap Pudji. kbc10

Bagikan artikel ini: