Impor Alas Kaki RI dari China Masih Mendominasi, Ini Buktinya

Kamis, 16 Mei 2024 | 12:46 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor alas kaki ke Indonesia tercatat sebesar US$52 juta pada April 2024. Angka ini mengalami penurunan sebesar 1,53 persen dibanding Maret 2024.

Dari angka tersebut, impor alas kaki dari China adalah yang paling banyak sepanjang April 2024 yang mencapai US$25 juta.

"Impor alas kaki pada April 2024 sebesar US$52 juta ini turun 1,53 persen secara month to month," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini seperti dikutip, Kamis (16/5/2024).

Dia mengatakan, impor paling banyak datang dari China dengan porsi 48,08 persen dari total impor alas kaki ke Indonesia.

"Nah ini utamanya berasal dari negara Tiongkok yaitu sebesar US$25 juta atau 48,08 persennya," kata dia.

Sementara itu, nilai ekspor alas kaki di April 2024 tembus sebesar US$461,2 juta. Angka terbesar masih dicatatkan oleh ekspor ke Amerika Serikat.

"Jadi total nilai ekspor alas kaki April 2024 adalah sebesar US$461,2 juta, dan utamanya ini diekspor ke Amerika Serikat sebesar US$157,1 juta," tuturnya.

Indonesia mengimpor alas kaki besar-besaran dari China ini di tengah terguncangnya industri alas kaki nasional seperti pabrik sepatu Bata.

Perusahaan itu menutup salah satu pabrik di Purwakarta, Jawa Barat, pada 30 April 2024.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah bertemu dan berdialog dengan manajemen PT Sepatu Bata Tbk (BATA) terkait dengan isu penutupan pabrik Sepatu Bata di Purwakarta, Jawa Barat.

Penutupan pabrik itu berimbas terhadap 233 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dari hasil diskusi tersebut, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki (ITKAK) Kemenperin Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan, manajemen Bata berjanji tidak akan meninggalkan pegawai yang terkena PHK begitu saja.

"Pekerja di usia produktif yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan dialihkan ke pabrik sepatu lain di sekitar Purwakarta," ujar Adie.

Dia menyampaikan, dari hasil dialog terungkap keputusan penutupan lini manufaktur atau produksi oleh manajemen Sepatu Bata berkaitan dengan strategi bisnis yang dilakukan dalam rangka refocusing pada lini penjualannya (store).

Hal ini merupakan langkah perusahaan guna menghadapi persaingan industri sepatu di dalam negeri.

"Direksi menyampaikan, dalam rangka efisiensi dan memperhatikan trend pasar yang cepat dan bervariasi, maka PT Sepatu Bata Tbk fokus pada pengembangan produk dan desain yang memenuhi selera pasar," kata Adie.

Berdasarkan pernyataan PT Sepatu Bata Tbk, pabrik Purwakarta sebenarnya hanya bagian kecil dari keseluruhan bisnis perusahaan. Demikian juga dari sisi produksi, masih sangat kecil jika dibandingkan dengan produsen sepatu lainnya.

"Karenanya, menurut manajemen, penutupan pabrik Purwakarta merupakan langkah paling realistis," ungkap Adie.

Perusahaan berpendapat, fokus pada bisnis ritel penting untuk dilakukan dalam rangka mengembalikan kinerja bisnis dan penjualan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. kbc10

Bagikan artikel ini: