Ekspor Kian Menyusut, Pemerintah Didesak Segera Bertindak

Sabtu, 18 Mei 2024 | 07:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku usaha mengungkap adanya sejumlah tantangan yang berisiko terhadap kinerja perdagangan pada kuartal II/2024, terutama terkait pelemahan permintaan negara tujuan ekspor.

Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi menyebut kinerja perdagangan Indonesia pada kuartal II/2024 masih dibayangi oleh perlambatan ekonomi di negara mitra.

Tanda-tanda itu terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2024 sebesar US$3,56 miliar mengalami penurunan -1,02% secara month-to-month (mtm) dan -0,38% secara year-on-year (YoY).

"Tantangan ke depan adalah perlambatan ekonomi di negara mitra dagang seperti Jepang, Uni Eropa dan lainnya," ujar Chandra seperti dikutip, Sabtu (18/5/2024).

Di sisi lain, kinerja ekspor secara bulanan terus mengalami penurunan. Dalam rilisnya hari ini BPS melaporkan nilai ekspor pada April 2024 sebesar US$19,62 miliar telah anjlok secara bulanan hingga 12,97% (mtm).

Oleh karena itu, Chandra memperkirakan kinerja ekspor pada kuartal II/2024 tidak akan banyak mengalami perubahan. Sebab, konflik geopolitik yang berkepanjangan dan adanya kebijakan suku bunga yang tinggi oleh The Feed, kata Chandra, masih akan mempengaruhi daya beli di negara-negara mitra dagang Indonesia.

Catatan BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor nonmigas ke China dan Amerika Serikat yang selama ini menjadi andalan bagi Indonesia mengalami penurunan pada April 2024. Nilai ekspor nonmigas ke China sebesar US$4,28 miliar pada April 2024 telah anjlok 9,83% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$4,75 miliar.

Begitupun nilai ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada April 2024 sebesar US$1,75 miliar juga turun 19,89% (MtM) dari nilai ekspor pada Maret 2024 sebesar US$2,19 miliar.

"Perkirakan saya kurang lebih masih seperti Q1/2024," ucapnya.

Oleh karena itu, Chandra menekankan kepada upaya pemerintah mendorong kinerja ekspor selama sisa tahun berjalan. Sejumlah strategi dapat dilakukan pemerintah seperti memberikan insentif fiskal, mendukung penetrasi pasar ekspor lewat promosi, meningkatkan kerja sama perdagangan secara bilateral dan multilateral.

Selain itu, realisasi investasi asing (foreign direct investment/FDI) perlu didorong untuk segera masuk ke Indonesia. "Ini semua tentunya harus disertai dengan kebijakan yang memberikan kemudahan berusaha, aturan yang tumpang tindih perlu dievaluasi," tuturnya. kbc10

Bagikan artikel ini: