10 Juta Gen Z Menganggur, Apa Kabar Target Indonesia Emas 2045?

Selasa, 28 Mei 2024 | 06:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia digadang-gadang memiliki peluang untuk melesat menjadi negara maju pada 2045, karena ditunjang oleh bonus demografi, di mana 70% penduduknya dalam usia produktif. Namun, fakta terkini menunjukkan bahwa mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setidaknya ada 10 juta generasi Z di Indonesia ditemukan tidak bekerja, bahkan tidak mengenyam pendidikan. Gen Z adalah mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012. Kondisi yang dialami generasi yang tengah dalam puncak masa produktif itu disebut membuat visi Indonesia Emas 2045 meredup.

Ekonom senior Indef Tauhid Ahmad menilai, kondisi itu membuat Indonesia semakin jauh dari pencapaian target Indonesia Emas 2045.

"Syarat tercapainya Indonesia emas 2045 itu kan ada dua, pertama pertumbuhan ekonomi antara 6-7%. Kedua, kita keluar dari middle income trap. Keduanya masih berat untuk dicapai saat ini," ujar Tauhid Ahmad, dikutip Selasa (28/5/2024).

Tauhid mengatakan, 10 juta pengangguran tersebut menyebabkan kemunduran bagi ekonomi Indonesia, meskipun masih mencatatkan pertumbuhan di angka 5%. Menurut Tauhid, jutaan pengangguran yang harusnya menjadi bonus demografi tersebut kini justru menjadi beban.

"Artinya bonus demografi terkini tidak bisa dimanfaatkan sebagai tenaga kerja produktif sehingga memperbesar middle income trap. Ini perlu ditangani secara serius," tandasnya.

Konsekuensi dari tidak berkurangnya jutaan pengangguran ini, tegas dia, adalah visi Indonesia emas 2045 akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk bisa dicapai.

Diketahui, BPS menyebutkan hampir 10 juta penduduk usia muda atau Gen Z dengan rentang usia 15-24 tahun menganggur. Dari angka tersebut, sebanyak 5,73 juta di antaranya merupakan perempuan dan 4,17 juta lainnya laki-laki.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa hampir 10 juta penduduk Indonesia generasi Z berusia 15-24 tahun menganggur atau tanpa kegiatan (not in employment, education, and training/NEET). Bila dirinci lebih lanjut, anak muda yang paling banyak masuk dalam ketegori NEET justru ada di daerah perkotaan yakni sebanyak 5,2 juta orang dan 4,6 juta di pedesaan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengungkapkan, banyak dari pengangguran berusia muda tersebut tercatat baru lulus SMA sederat dan perguruan tinggi.

"Mereka yang pengangguran itu kebanyakan adalah generasi Z ya. Mereka yang rentang usianya 18-24 tahun, yang selesai lulus SMA, SMK atau mereka lulus perguruan tinggi," beber Ida.

"Dan rata-rata mereka adalah posisinya kalau 18 tahun biasanya posisinya adalah mencari pekerjaan atau meneruskan kuliah," imbuh Ida.

Penyebab banyak Gen Z menganggur, menurut analisa Ida, faktor utamanya banyaknya angka pengangguran pada penduduk muda berusia 15-24 tahun ini adalah karena kurang singkronnya pendidikan dan permintaan tenaga kerja.

"Ini tentu menjadi tantangan bagi kita semua karena ternyata kalau kita dalami data kita lulusan SMA/SMK, terutama SMK itu menyumbangkan pengangguran kita. Kenapa terjadi begini? Karena di antaranya adalah tidak terjadi link and match," ujar politikus PKB ini.

Faktor lain yang menyebabkan tingginya angka pengangguran di Gen Z adalah turunnya lapangan pekerjaan di sektor formal. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Februari tahun 2009, 2014, 2019, dan 2024 menunjukkan adanya tren penurunan penciptaan lapangan kerja di sektor formal.

Selama periode 2009-2014, lapangan kerja yang tercipta di sektor formal menyerap sebanyak 15,6 juta orang. Jumlah ini menurun menjadi 8,5 juta orang pada periode 2014-2019, dan kembali merosot pada periode 2019-2024 menjadi 2 juta orang saja.

Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas/Kementerian PPN Maliki menyebut, ada beberapa langkah yang seharusnya diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Salah satu yang utama menurutnya adalah dengan memperbaiki sistem pendidikan.

"Kami menekankan satu, sistem pendidikan itu tentunya harus meningkatkan motivasi mereka. Bisa melihat cita-cita mereka apa, mau bekerja seperti apa, dan sebagainya," kata Maliki. kbc10

Bagikan artikel ini: