Percepat Digitalisasi Industri Hulu Migas, SKK Migas Luncurkan Inovasi Teknologi SPEKTRUM

Senin, 10 Juni 2024 | 19:36 WIB ET

SURABAYA, kabarnisnis.com: SKK Migas melakukan percepatan digitalisasi industri hulu minyak dan gas (migas) melalui peluncuran Sistem Pemetaan Kolaboratif Tata Ruang Hulu Migas atau SPEKTRUM IOG 4.0 dengan mengaktifkan Wilayah Kerja migas sebagai sumber data dan informasi geospasial yang dapat diakses melalui kolaborasi data connection antara SKK Migas dan KKKS.

Peluncuran SPEKTRUM IOG 4.0 dilaksanakan saat event pembukaan Pre IOG SCM Summit dalam rangkaian Indonesia Upstream Oil & Gas SCM Summit 2024 (IOG SCM Summit 2024) di Surabaya, Senin (10/6/2024). Pre IOG SCM Summit yang digelar hingga Selasa (11/6/1024) mengangkat tema "Technology and Digitalisation", menekankan peran pentingnya teknologi dan digitalisasi dalam memajukan Supply Chain Management (SCM) industri hulu migas nasional.

Wakil Kepala SKK Migas Shinta Damayanti mengungkapkan bahwa saat ini kinerja industri hulu migas terus melandai. Hal ini terlihat dari tidak terpenuhinya target lifting minyak dalam beberapa tahun terakhir. "Untuk produksi gas, walaupun sudah ada kenaikan tetapi masih belum mencapai target yang telah ditetapkan oleh APBN. Dari teman-teman teknis sudah berjibaku untuk mencari potensi- potensi, tetapi kembali, semua hanya akan terjadi jika projek-projek itu terlaksana. Dan kunci dari projek itu terlaksana adalah di pengadaan atau Supply Chain Management (SCM red.)," ungkap Shinta Damayanti.

Oleh karena itu, lini depan yang harus dibina dan dikedepankan agar projek tersebut bisa terlaksana semua. "Intinya dari semua ini adalah informasi tersampaikan, challenge atau tantangan tersampaikan, berinovasi, membuat terobosan-terobosan sehingga projek yang direncanakan bisa terlaksana. Karena tidak ada cara lain selain projek itu terlaksana untuk menaikkan produksi dan lifting," tandasnya.

Dan data, lanjutnya, menjadi kunci utama, baik untuk pemetaan dibawah permukaan, ataupun dalam proses pengadaan sehingga tidak ada miskomunikasi dan tidak ada lagi mis informasi. "Dan di SPEKTRUM ini semua peta atau geospasial, peta potensi hukum migas, potensi minyak, potensi gas, kondisi infrastruktur, informasi itu kita satukan semua sehingga nanti diharapkan akan memberikan suatu perencanaan jauh lebih baik dari sisi teknis, dari sisi paling hulunya dalam menentukan potensi hingga proses pengadaan," katanya.

Sistem ini akan terus dikembangkan melalui kerjasama dengan berbagai pihak. Saat ini, SPEKTRUM telah bekerjasama dengan dengan Kementerian ESDM dalam hal laporan cadangan dan sumber daya.

"Kita juga telah bekerjasama dengan kementerian keuangan dalam sistem informasi terintegrasi dengan Kemenkeu. Harapannya itu akan kita kembangkan lagi dengan kementerian lain sehingga semua dapat kita baca dalam platform yang sama dan tidak terjadi lagi mis informasi sehingga dapat terjadi percepatan," tekan Shinta Damayanti

Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, Rudi Satwiko menjelaskan, SPEKTRUM adalah sistem pemetaan kolaboratif yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas tata ruang sektor hulu migas. Sistem ini memungkinkan sinkronisasi dan harmonisasi peta dari berbagai bidang kerja, yang integrasi dengan peta OneMap ESDM dan Kebijakan Satu Peta Nasional.

“Penerapan SPEKTRUM memudahkan pemetaan dan pengelolaan data ruang, serta mendukung kolaborasi antar pemangku kepentingan industri hulu migas nasional. Inovasi ini tentunya mendorong kemajuan industri hulu migas melalui adopsi teknologi canggih dan digitalisasi,” ujarnya.

Pengguna utama sistem ini adalah SKK Migas, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), dan para pemangku kepentingan industri hulu migas, khususnya yang berada di pemerintah. SKK Migas menjadi penghubung dan penyedia Infrastruktur Geospasial Dasar (IGD). Sementara itu, KKKS berperan sebagai penyelenggara simpul jaringan Informasi Geospasial Tematik (IGT) hulu migas di wilayah kerja masing-masing.

"Data dapat diakses oleh SKK Migas untuk pencarian, penyajian, pengunduhan, dan pengolahan secara real time. Dengan adanya jaringan informasi geospasial yang komprehensif, pengelolaan tata ruang hulu migas lebih efisien dan efektif," jelasnya.

Implementasi SPEKTRUM dimulai dengan blueprint arsitektur dan Pedoman Tata Kerja (PTK) SPEKTRUM IOG 4.0. Targetnya, 60 persen wilayah kerja hulu migas akan terkoneksi dengan sistem ini pada tahun 2025.

Pejabat (Pj) Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono yang hadir dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa kunci utama ada di Supply Chain Management dan apa yang harus dilakukan. "Saya mengapresiasi bahwa database sangat terintegrasi dari sektor migas, mulai hulu hingga hilir. Ini adalah forum yang bisa memberikan data yang kuat untuk investor atau vendor yang bergerak. Di bidang migas. Dan itu memudahkan kami untuk bisa menfasilitasi dan mempermudah perijinan kepada para investor," ungkap Adhy Karyono.

Ia juga mengungkapkan apresiasinya atas transformasi digital yang telah dilakukan SKK Migas karena hampir semua proses di dalam rantai pasok di sektor migas terkoneksi melalui satu pintu dengan semua stakeholder subsistem yang ada.

"Dan juga tentang kebijakan menggunakan produk dalam negeri. Satu hal bagi kami adalah multiplayer effect bagi masyarakat dimana ada kesempatan diberikan berupa pembinaan kapasitas di bidang ekonomi dan juga adabbantuan modal kerja. Ini menunjukkan bahwa keberadaan industri sektor migas tidak hanya bagaimana mengelola migas untuk provinsi dan nasional tetapi juga efek bagi masyarakat, meningkatkan daya beli masyarakat dan juga mengurangi pengangguran," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: