Optima Prima Metal Sinergi Bidik Penjualan Rp65 Miliar di 2024

Sabtu, 15 Juni 2024 | 19:14 WIB ET
Jajaran Direksi dan Komisaris  PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS)
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS)

BANGKALAN, kabarbisnis.com: Emiten yang bergerak dalam bisnis penjualan potongan besi atau besi scrap, PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) menargetkan penjualan sebesar Rp 55 miliar - Rp 65 miliar. Angka ini naik signifikan dibanding realisasi penjualan perseroan pada tahun 2023 yang sebesar Rp 9,11 miliar.

Direktur Utama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk, Meilyna Widjaja mengatakan, perseroan melihat prospek bisnis pada tahun 2024 ini menjanjikan. Pasalnya, saat ini perseroan tengah dalam proses pembelian 2 unit kapal sebagai bahan baku dengan perkiraan tonase 5.000 ton.

"Semoga pada akhir bulan Juni atau awal Juli tahun ini Perseroan dapat merealisasikannya. Dengan demikian target perseroan untuk mencapai penjualan Rp 55 miliar hingga Rp 65 miliar tahun ini bisa tercapai," ujarnya pada paparan publik perseroan di kantornya, Bangkalan, Jumat (14/6/2024).

Keyakinan Meilyna akan pencapaian target di tahun 2024 juga didasarkan pada kinerja perseroan pada kuartal I-2024 ini, dimana berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 23,25 miliar atau mengalami lonjakan kenaikan sebesar 12.745,8% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023.

"Kami sangat optimis, karena pencapaian penjualan perseroan di kuartal I tahun 2024 ini merupakan pencapaian omzet kuartal I yang terbaik sepanjang 5 tahun terakhir," tandasnya.

Pada laba rugi bersih di kuartal I-2024, perseroan mengalami rugi sebesar Rp 1,36 miliar atau turun 17,06% jika dibandingkan rugi bersih tahun 2023 yang sebesar Rp 1,64 miliar.

Kinerja perseroan di tiga bulan pertama tahun 2024 memang cukup moncer. Paling tidak jika melihat catatan keuangan perseroan sepanjang tahun 2023. Direktur PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk, Rubbyanto Ping Hauw Handjaja menjelaskan, sepanjang tahun 2023 perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 9,11 miliar atau mengalami penurunan sebesar 59,50% jika dibandingkan dengan tahun 2022.

Sementara pada laba rugi bersih, perseroan mengalami rugi sebesar Rp 4,75 miliar atau meningkat 451,95% sebesar Rp 3,89 miliar jika dibandingkan rugi bersih tahun 2022 yang sebesar Rp 860,85 juta.

"Penjualan perseroan tahun 2023 turun drastis karena pada awal tahun 2023 sampai dengan akhir kuartal III, perseroan kesulitan mendapat bahan baku. Ini disebabkan adanya pergeseran Dinamika Supply Chain, dimana perusahan pelayaran skala menengah yang dulunya membeli kapal baru beralih untuk membeli kapal bekas di KPKNL. Mereka rekondisi agar kapal tersebut layak jalan untuk digunakan sebagai armada laut mereka," terangnya.

Kondisi tersebut, menurut Rubbyanto, membuat perseroan kesulitan untuk bersaing, mengingat kapal-kapal tersebut dulunya adalah merupakan bahan baku utama perseroan.

"Hal ini dapat diketahui karena perseroan selalu kalah dalam lelang dengan selisih harga yang sangat jauh dari pemenang lelang. Sehingga ini dapat diindikasikan bahwa kapal-kapal tersebut dibeli bukan untuk dijadikan scrap. Namun pada pertengahan tahun 2023 perseroan mengikuti lelang untuk kapal-kapal yang kondisinya sudah tidak layak operasi dan pada November 2023 perseroan memenangkan lelang di KPKNL atas kapal AHTS Sound," paparnya.

Rubbyanto pun berharap dengan mulai membaiknya suplai bahan baku, kinerja perseroan akan terus positif di tahun 2024. kbc7

Bagikan artikel ini: