Kominfo Akui PDN Diserang Ransomware, Peretas Minta Tebusan Rp120 Miliar

Senin, 24 Juni 2024 | 19:08 WIB ET
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pusat Data Nasional (PDN) Indonesia milik Kementerian Komunikasi dan Informatka (Kominfo) terdampak gangguan serius akibat serangan siber ransomware. Bahkan peretas menuntut uang tebusan sebesar US$8 juta atau sekitar Rp 120 miliar.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi mengkonfirmasi hal ini di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Senin (24/6/2024). Menurut Budi Arie, tim keamanan telah mengidentifikasi serangan tersebut sebagai virus LockBit 3.0, versi terbaru dari serangan ransomware yang telah dikenal sebelumnya. "Ini serangan virus LockBit 3.0," ungkap Budi Arie di Jakarta, Senin  (24/6/2024).

Kejadian ini bermula dari Pusat Data Nasional Sementara di Surabaya, Jawa Timur, yang diketahui sebagai lokasi serangan. Kominfo menelusuri terdapat 210 instansi baik di pusat maupun daerah yang terhubung dengan Pusat Data Nasional sementara yang mengalami gangguan.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika atau Aptika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan tidak memerinci instansi apa saja yang terkena dampak. Merujuk pada laman Kominfo, ada 56 kementerian dan lembaga yang menggunakan Pusat Data Nasional selama 2020 - 2021. Selain itu, ada 13 provinsi, 105 kabupaten, dan 31 kota. Rincian daftar kementerian dan lembaga yang menggunakan Pusat Data Nasional selama 2020 - 2021.

Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian menambahkan, ransomware yang dikenal dengan nama Brain Cipher ini adalah pengembangan dari LockBit 3.0. "Ransomware ini dikembangkan terus. Ini yang terbaru setelah kita lihat dari sampel, sudah dilakukan sementara oleh forensik BSSN," ungkap Hinsa.

Dari serangan ransomware ini, dia menegaskan data warga Indonesia berpotensi tidak aman. Namun, BSSN mengklaim sudah melakukan konversi informasi atau enkripsi data warga untuk pengamanan sementara.

Hinsa menambahkan, pihaknya menemukan sampel data Pusat Data Nasional yang diunggah peretas di dark web. Setelah dikonfirmasi ke kepolisian membenarkan. "Tapi data lama. Sekali lagi, banyak sekali datanya," terangnya.

Mengenal Braincipher, Ransomware Canggih yang Mampu Jebol Server Pusat Data Nasional. Dia juga menyatakan, informasi mengenai serangan ini disampaikan kepada publik sebagai bentuk pembelajaran dan mitigasi untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Pemerintah saat ini sedang melakukan langkah-langkah pemulihan dan telah melibatkan berbagai instansi untuk menangani dampak dari serangan ini. kbc11

Bagikan artikel ini: