Selebgram hingga Milenial India Hambat Ekspor Sawit Indonesia

Kamis, 4 Juli 2024 | 22:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kampanye hitam terhadap minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebagai komoditas ekspor primadona non migas bukan hanya dilakukan Amerika Serikat dan sejumlah negara Uni Eropa (UE). Kini, India dan Pakistan sebagai negara utama ekspor CPO di Asia selain China juga melakukan tindakan serupa.

Ketua Kompartemen Media Relations Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fenny Sofyan menuturkan, India dan Pakistan melakukan kampanye hitam atas produk ekspor CPO dari India. Ironisnya, praktik penolakan produk minyak kelapa sawit tersebut dimotori kalangan milenial dan selebgram. Tentunya, hal ini bukan persoalan sepele, mengingat suara mereka dapat mempengaruhi persepsi pasar terutama di kalangan anak muda.

Kampanye hitam tersebut secara terang-terangan memberikan peringatan tentang bahaya produk turunan dari kelapa sawit di kemasannya. Misalnya dari dampaknya terhadap kesehatan hingga masalah.

"Tren tidak mau menggunakan kelapa sawit karena bukan minyak nabati yang hijau dan sustainable itu sudah mulai ke anak-anak muda di India dan Pakistan. Jangan sampai kita terlena dan membiarkan ini terjadi," ujar Fenny dalam diskusi Forwatan bertema 'Menjaga Keberlanjutan Industri Sawit Dalam Pemerintahan Baru' di Jakarta, Kamis (4/7/2024).

Fenny menuturkan, isu ini mulai mencuat disuarakan ketika ada perhelatan Sustainable Vegetable Oil Conference pada September 2023. Temuan itu didapat setelah perwakilan Indonesia berbincang dengan negeri tetangga yang juga eksportir besar sawit, Malaysia.

"Ternyata banyak fakta-fakta mengejutkan. Banyak banner-banner atau iklan-iklan oleh selebritas India yang kemudian menyoroti tentang kesehatan minyak sawit," imbuh Fenny.

Menurut Fenny, campaign anti sawit ini banyak didengungkan lantaran itu dinilai berpengaruh terhadap kesehatan. Khususnya ketika masa pandemi Covid-19, dimana banyak artis dan selebgram India yang mengkampanyekan soal kesehatan.

Sebagai antisipasi, GAPKI bersama Malaysian Palm Oil Council  mencoba membangun narasi positif terkait kelapa sawit dan produk turunannya di berbagai media India.

"Kalau untuk sustainibility mungkin belum, tapi jangan lupa bahwa India dan Pakistan sudah mulai resah dengan ketergantungannya terhadap sawit. Mereka juga sudah mulai buka kebunnya sendiri. Tapi, jangan khawatir, walaupun mereka buka tidak bisa full fill kebutuhannya mereka," tuturnya.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung mengatakan, serangan bertubi tubi dengan kampanye hitam atas minyak kelapa sawit karena produktivitas yang tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Misalnya, produktivtas minyak sawit yang dihasilkan dari 1 hektare lahan sawit mampu menghasilkan 13 kali dari  tanaman kedelai dan enam kali lebih banyak dari biji bunga pasar.

Secara ekonomi, masalah efisiensi produksi sawit memang cukup mengancam komoditas minyak nabati lainnya. Pasalnya, efisiensi minyak sawit yang relatif tinggi membuat harganya cenderung lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya. Wajar saja jika kemudian minyak sawit mendapat banyak batu sandungan, terlebih karena tidak dihasilkan negara maju, melainkan oleh negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia.

Gulat berharap atase perdagangan di Republik Indonesia kedua negara tersebut lebih berperan aktif meng-counter kampanye negatif dengan menjelaskan secara argumentatif bahwa minyak kelapa sawit telah memenuhi syarat keberlanjutan sebagaimana tuntutan kedua negara.

Guru Besar IPB University Prof Rachmat Pambudy menegaskan, diperlukan komitmen kuat bagi semua pemangku kepentingan agar minyak kelapa sawit mampu menjadi komoditas ekspor non migas nasional yang memiliki daya saing. Bagaimanapun, India memegang kunci penting dalam distribusi rantai pasok CPO dunia, termasuk ke UE.

Rachmat menyodorkan dua langkah sekaligus yakni promosi dan proteksi minyak kelapa sawit sebagai sub sistem agribisnis. Pemerintah sepantasnya mengevaluasi regulasi yang dinilai menghambat dunia usaha. Kebijakan investasi harus mampu menjamin harmonisasi yang mewakili dan melindungi dunia usaha sekaligus memperlakukan petani sawit dalam ekosistem bisnis yang berkeadilan.

Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke India ditaksir mencapai 6 juta ton senilai US$5 miliar dolar di tahun 2023. Tingginya pertumbuhan penduduk India mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi minyak nabati.

Mengutip data The Solvent Extractors Association of India menyebutkan,pada tahun 2008-2009, sebesar 14,1 juta ton menjadi 22,5 juta pada 2021-2022. Akibatnya ketergantungan terhadap impor minyak nabati mencapai 65% dan 60% diantaranya berasal dari minyak kelapa sawit.

Adapun, konsumsi minyak kelapa sawit mencapai 25 juta ton atau 33% dari tota minyak nabati nasional India. Sementara, ekspor minyak nabati pasar ke Pakistan mencapai hampir 3 juta ton dengan raihan devisa US$3,1 miliar.

Total konsumsi minyak nabati mencapai 4,5 juta ton, namun produksi baru sebesar 750 ribu ton. Suplai minyak kelapa sawit ke kedua negara ini untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati kedua negara tersebut sebagai bahan baku industri. kbc11

Bagikan artikel ini: