Program TV utamakan uang karena dipegang pedagang

Rabu, 23 Juni 2010 | 09:07 WIB ET
kesenian tradisional
kesenian tradisional

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerhati dan pelaku budaya, Jay Subyakto prihatin dengan kondisi pertelevisian nasional saat ini. Program TV lebih mengutamakan unsur komersial, uang ketimbang mengangkat dan melestarikan seni budaya nusantara. Yang menyedihkan lagi, TV sudah mengesampingkan masalah pendidikan, tradisi, adat istiadat bangsa.

"Beginilah kalau pertelevisian nasional dipegang pedagang, yang dipentingkan hanya pemasukan uang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas tayangannya. Apalagi, saat ini TV sudah menjadi kendaraan politik, mengungkap aib seseorang secara fulgar," ungkap Jay Subyakto pada paparan pagelaran Festival budaya Gempita Gianyar 2010 di Jakarta, kemarin.

Selain itu, sambung Jay, management televisi lebih mengontrol tingkat rating acaranya terkait dengan pendapatannya. Dan tidak lagi mengontrol kualitas acara yang disajikan kepada masyarakat. Juga, agensi iklan mencari acara yang memiliki rating tinggi dan bukan melihat kualitas acara untuk pemasangan iklan.

Juga, ada indikasi televisi kerjasama dengan provider untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya melalui acara reality show ajang kontes pencarian bakat tidak lagi memilih pemenang sesuai kenyataan, namun berdasarkan poling SMS (short massanger service), sehingga berdampak buruk pada keluarga konstentan untuk mengirim SMS sebanyaknya agar bisa tampil sebagai juara.

"Padahal mengirim SMS itu, mereka rela hutang untuk memberi pulsa. Ternyata gagal di tengah jalan, sehingga banyak yang terpuruk pasca ikuti ajang kontes. Acara seperti itu, ternyata tidak untuk membangun culture building yang bagus. Karenanya, saya tidak mau lagi menjadi komentar dan mengundurkan diri," ucap art director yang berambut panjang.

Menurutnya, kondisi tv nasional yang sudah keluar dari pakemnya, lantaran pemerintah tidak tegas dalam melakukan penindakan. Pemerintah lemah meski memilki segudang undang-undang yang tak pernah dipakai pedoman untuk memberi peringatan bagi TV, yang tak pernah memperhatikan nilai-nilai budaya bangsa.

"Bahkan, keberadaan Komisi Pertelevisian Indonesia (KPI) tidak jalan dan tidak jelas program kerjanya. Kalau kondisi seperti ini, terus dibiarkan saya tidak tahu bagaimana nasib kebudayaan dan kesenian Indonesia kelak nanti," terangnya. Kbc10

Bagikan artikel ini: