Sulit buka cabang di Malaysia, BI tak perlu resiprokal

Kamis, 2 September 2010 | 09:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.cm: Sulitnya perbankan Indonesia membuka cabang di Malaysia disebabkan adanya kebijakan khusus yang berlaku di negeri Jiran tersebut. Jika ingin membuka kantor cabang di Malaysia, bank nasional harus mendirikan bank terlebih dahulu.

"Kita sudah pernah berbicara dengan Gubernur Bank Sentral Malaysia. Jadi jika ingin buka cabang di Malaysia, harus bikin bank terlebih dahulu di sana," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution usai berbuka puasa di Gedung BI, Jakarta, Rabu (1/9/2010) malam seperti dilansir laman inilah.com.

Kebijakan tersebut, menurut Darmin, membuat salah satu bank nasional, PT Bank Mandiri Tbk sulit melakukan ekspansi dengan membuka kantor cabang di Malaysia.

Dia menyampaikan, BI pada waktu itu memang menyampaikan masalah pembukaan cabang ke Bank Sentral Malaysia ketika melakukan pertemuan bilateral beberapa waktu lalu. Saat itu, Bank Sentral Malaysia sebetulnya mempertimbangkan hal tersebut. Namun pada akhirnya izin yang dikeluarkan tetaplah pendirian bank.

"Ya, jika ingin mendirikan bank baru kan jadinya mahal, makanya Bank Mandiri tidak mau," ujarnya.

Meski bank-bank Indonesia kesulitan berekspansi di Malaysia, namun Darmin menegaskan bahwa pihaknya lebih memilih untuk berbicara baik-baik kembali dengan Bank Sentral Malaysia terkait sulitnya bank plat merah membuka cabang di Malaysia. "Ya, kita harus bicarakan baik-baik saja. Nggak usah pakai resiprokal-lah," tukasnya.

Asas resiprokal sempat didengungkan oleh sejumlah kalangan agar perbankan nasional bisa berkembang di mancanegara. Dengan asas tersebut, jika ada bank asing ingin membuka cabang di Indonesia, maka bank asal Indonesia harus dipermudah pula untuk mendirikan kantor cabang di negara asal bank asing bersangkutan. kbc3

Bagikan artikel ini: