50 pelukis lukis bareng 'Gerbong Kerata Api Bonek'

Minggu, 7 November 2010 | 10:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sedikitnya 50 pelukis yang tergabung dalam Komunitas Seni Bulungan (KSB) melukis bareng bertema Gerbong Kereta Api Bonek. Lukisan ini sebagai simbol tidak adanya leadership atau lokomotif dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah atas keberlangsungan hidup KSB juga harapan seniman ingin mengembalikan fungsi sebuah Gelanggang Remaja Jakarta.

"Melukis bareng ini demi kebangkitan kembali Gelanggang Remaja di Jakarta yang sudah kumuh, merana, kondisinya mengenaskan bahkan lahan apalagi gedungnya diduduki kelompok yang tidak berhak selama belasan tahun dan dibiarkan saja oleh Pemda maupun Walikota Jakarta," ungkap Noorca M Massardi, jurubicara KSB pada pembukaan Pesta Seni dan Pameran Multi Dimensi, di Jakarta, Ahad (07/11/10).

Berubahnya zaman. sambung Noorca, mempengaruhi organisasi birokrasi pemerintahan DKI Jakarta, sehingga Gelanggang Remaja sempat mengalami kemandegan fungsi sekitar dua dasawarsa. KSB berniat merevitalisasi Gelanggang Remaja, agar sejalan visi misi Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta Raya masa itu, yang membangkitkan dunia seni budaya di Jakarta.

Seniman Jakarta, juga berharap para pelajar, remaja, pemuda Jakarta bisa kembali berkiprah dan berkreasi dalam bidang seni budaya demi pembangunan karakter, jatidiri, kebanggaan bangsa, melalui pengembangan kreativitas di bidang seni budaya, di tempat-tempat yang bangunan dan peruntukkannya sudah sesuai dengan namanya yakni, Gelanggang Remaja, bukan gelanggang birokrat.

"Harapan KSB agar aktivitas yang terbuka untuk umum dan gratis, mendapat dukungan dari komunitas seni lain maupun pengusaha sebagai bagian tanggung jawab sosial perusahaan untuk memajukan industri kreatif di Tanah Air," paparnya.

Pesta Seni dan Pameran Multi Dimensi digelar hingga 12 November. Kegiatan swadaya dan swakelola ini diharapkan akan mendorong para remaja memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil di tengah masyarakat dan terus berupaya memperbaiki diri, sehingga menjadi para profesional di bidang yang ditekuninya, ucapnya.

Acara gratis yang terbuka untuk umum, pelajar, remaja, pemuda, selain melukis gerbong bersama, juga ad, Body Painting, Lukis Langsung Selebriti, Sketsa Wajah oleh Ipe Maruf, Dimaz Praz, Didieth K., Pembacaan Lukisan Puisi (Lukman SH), Sajakisah Lukisan (Erry Amanda dan Andi Bersama), Pikiranisasi Jungkirbalik (G.Widro Mansoer), Demo Gambar (Teguh Anka), Apresiasi Senirupa (Boedi Indera Cahaya, S Pri),

Juga menyajikan karya-karya seni berupa: anyaman, arsitektur, batik sulam, batu akik, buku, cinderamata, desain grafis, fashion, fotografi, gerabah, instalasi, kaligrafi, karikatur, kartun, keramik, keris, komik, kriya, lukisan, multimedia, patung, perangko, puisi rupa, relief, sastra, sketsa ilustrasi, tattoo, teater, tenun, topeng, ukiran, wayang, dll.

Pesta Seni & Pameran Senirupa Multi Dimensi, diikuti antara lain oleh: Aang, Agnes Y. Tilaar, Agus S, Ahmad Wage, Alief, Anang WE, Arief I AG, Atu Mudili, Dicky Iskandar, Didieth K, Dimaz Pras, Djatmiko, Eko Bhandoyo, G.Widro Mansoer, Hilda Sabri Sulistyo, Irma Citra Jayatri, Joko Joker,

Joko Setiawan, Kurt, Lukman SH, Mumar, Non-O, Noorca M. Massardi, Nur Malichan A, Qbro Pandamprana, Rd Nanoe Anka, Riana Hutahayan, Sis, Suwandi, Toni Q, Wijaya Kusnaryanto, Yan Praba, Yudhistira ANM Massardi, Zaza G, dll.

Ada juga Reggaenisasi lukisan (Toni Q), Kendangisasi (Ohan ADP), Demo Karikatur (Si Jon, Non-O, Aries Tanjung, dan Yan Praba), Demo Lukis Sepatu & Kaos (Muchlis Sardjana, dkk.), Multimedia (Anang W), Pameran Fotografi (Roy Gengggam, Riana, Yitno, Toto Prawoto), Sketsa-sketsa (Si Toto, Herry Dim, Nobon), Demo Batik (Ineng CS, Qbro Pandamprana), Pantomisasi Senirupa (Joko Joker), Monologi Senirupa (Didi Hasyim dan Amien Kamil), dll.

Bahkan diadakan Diskusi dan Apresiasi Senirupa dengan pembicara Muryoto Hartoyo, Radhar Panca Dahana dan Merwan Yusuf, dengan moderator Noorca M.Massardi mulai pukul 13. 00 disamping pagelaran tari tradisional dan kontemporer.

“Remaja butuh kesempatan, lingkungan, dan wadah untuk mengekspresikan diri. Mereka sedang menjalani proses pencarian dan pematangan jati diri. Mereka mengalami masa trial and error, kondisi kejiwaan yang labil, serta kondisi jasmani dalam pertumbuhan yang membutuhkan pendampingan agar tak salah jalan.” sambungnya. Kbc10

Bagikan artikel ini: