Jaga pasar domestik, RI stop impor mutiara

Jum'at, 15 Juli 2011 | 10:15 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pemerintah berjanji akan menutup pintu rapat-rapat bagi produk mutiara impor jika produk tersebut tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia alias SNI. Jika banyak produk mutiara impor yang masuk, dikhawatirkan akan merusak harga mutiara di pasar domestik.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, harga mutiara di pasar domestik saat ini jeblok karena banyaknya produk mutiara impor yang masuk. Antara lain dari Tiongkok, Myanmar, dan Tahii. Rata-rata impor mutiara mencapai tiga ton, atau 25% dari pasar mutiara di Indonesia sebanyak 12 ton per tahunnya. "Mutiara-mutiara impor yang tidak bisa memenuhi standar SNI itu saya anggap ilegal. Saya sudah cek, mulai hari ini kita stop impor mutiara," ujar Fadel di sela-sela Musda Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) di Hotel Somerset, Surabaya, Kamis (14/7/2011).

Fadel mengatakan, harga lokal market mutiara hanya di kisaran US$5 per gram. Padahal, harga mestinya bisa lebih dari itu. "Karena itu kita stop impor mutiara. Apalagi, sebenarnya ada idle capacity sekitar tujuh ton dari total kapasitas produksi sebesar 12 ton," ujarnya.

Fadel juga menyebutkan sebenarnya mutiara-mutiara impor itu bukan pearl yang sesungguhnya, tapi justru kategori manik-manik. "Oleh karena itu, pangsa pasar di Indonesia harus dibangkitkan," kata politikus Partai Golkar tersebut.

Harga mutiara asal Indonesia di pasar ekspor saat ini juga tak semahal produk mutiara dari negara lain. Jika melihat acuan mutiara jenis South Sea Pearl (SSP) atau mutiara laut selatan yang diproduksi Australia, di pasar ekspor dunia bisa mencapai US$30 per gram. Sedangkan harga mutiara SSP yang diproduksi Indonesia baru menuju angka US$16,5 per gramnya. Dibanding tahun lalu, mutiara SSP Indonesia malahan hanya berada di US$5 per gramnya.

Menurut Ketua Komisi Mutiara Indonesia, Bambang Setiawan, harga mutiara sangat bergantung dari kualitas. "Perlu diingat, mutiara itu adalah hasil budidaya dari kerang. Dari 12 ton yang diproduksi, tidak semua perfect. Hanya 60% saja yang bagus," ujarnya.

Kondisi cuaca yang fluktuatif juga berpengaruh secara signifikan. Selain itu, budidaya mutiara juga sensitif dengan air laut yang tercemar, temperatur yang terlalu tinggi, tingkat keasinan air laut, hingga pH. "Sehingga, kami sangat bekerja keras untuk mendapatkan mutiara berkualitas tinggi atau high grade," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: