Di Asean, daya saing Indonesia rendah

Rabu, 18 April 2012 | 14:16 WIB ET
(Ilustrasi/dok. kabarbisnis.com)
(Ilustrasi/dok. kabarbisnis.com)

BATAM, kabarbisnis.com: Dibanding sejumlah negara di Asia Tenggara atau Asean, kemampuan daya saing ekonomi Indonesia ternyata masih rendah. Rangking daya saing Indonesia lebih rendah dibanding Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, bahkan Thailand.

Menurut World Economic Forum, pada tahun 2011 rangking daya saing Indonesia di peringkat 46 dari 142 negara, Singapura di peringkat 2, Malaysia di peringkat 21, Brunei Darussalam di peringkat 28, dan Thailand di peringkat 39.

"Daya saing ekonomi Indonesia rendah, bukan soal upah, tetapi masalah birokrasi. Birokrasi kita dianggap belum bekerja seperti seharusnya. Infrastruktur juga masih lemah. Ini masalah kita bersama," kata Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman saat menjadi pembicara kunci dalam Focus Group Discussion Kamar Dagang dan Industri Provinsi Kepulauan Riau tentang pengupahan di Batam, Rabu (18/4/2012).

Meskipun begitu, kata Irman, masalah pengupahan juga berpengaruh karena berkaitan erat dengan produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Untuk meningkatkan daya saing, salah satunya, kinerja sektor produksi harus digenjot secara maksimal.

Sistem pengupahan masih menggunakan standar upah minimum yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dalam undang-undang ini, upah minimum dihitung dan ditentukan berdasarkan kebutuhan hidup layak di masing-masing wilayah provinsi atau kabupaten/kota.

"Sistem tersebut memang belum memprioritaskan kebutuhan dan kesejahteraan buruh. Akibatnya selama ini sering muncul konflik antara buruh dengan perusahaan karena adanya tuntutan kenaikan upah," ujar Irman. kbc10

Bagikan artikel ini: