Starbucks tak lagi pakai pewarna dari kumbang

Jum'at, 20 April 2012 | 13:21 WIB ET

LOS ANGELES, kabarbisnis.com: Penggemar Strawberries & Creme Frappuchinos di warung kopi Starbucks kini tak lagi mencecap rasa yang sama. Sebabnya, Starbucks Corporation tidak lagi memberi serbuk serangga. Ya, serbuk yang memberi warna merah pada dua minuman populer itu berasal dari serangga yang dihancurkan,

Raksasa waralaba kopi itu memakai pewarna dari kumbang tropis bernama cochineal. Cochineal memang biasa menjadi pewarna alami merah, mulai dari tekstil hingga lipstik. Ekstraknya sudah digunakan dalam makanan sejak abad ke-15.

Pada produk Starbucks, pewarna cochineal dipakai untuk smoothies pisang strawberry, kue pilin raspberry, kue ulang tahun, donat mini dengan icing merah jambu, dan pai whopee berwarna merah.

Menurut LATIMES.com, kumbang cochineal acap ditemukan di sela-sela kaktus berduri di Amerika Latin. Pewarna cochineal tidak disukai kaum vegetarian dan juga kaum Yahudi yang menganut makanan berlabel kosher.

Pelanggan Starbucks sendiri sudah lama memprotes penggunaan cochineal. Sebanyak 6.500 orang ikut meneken petisi daring di situs change.org untuk menolak penggunaan kumbang seukuran kuku jari kelingking orang dewasa itu.

Ilmuwan menyebutkan, untuk menghasilkan satu ponds (0,45 kg) pewarna dibutuhkan 70.000 ekor kumbang. Akan tetapi, kini kumbang-kumbang itu tak lagi harus diblender karena starbucks memutuskan menggantinya dengan ekstrak tomat yang disebut likopen.

Penggunaan pewarna kumbang itu terungkap bulan lalu. Seorang barista di starbucks yang juga vegetarian mengirimkan surat elektronik ke situs vegetarian tentang penggunaan pewarna kumbang. Akhirnya isu meluas dan starbucks pun mengganti kebijakannya.

"Pelanggan kami berhak mendapatkan yang terbaik dan kami menjanjikan lebih baik lagi," ujar Presiden starbucks Amerika Cliff Burrows. kbc10

Bagikan artikel ini: