DPS luncurkan kapal ketujuh pesanan Pertamina

Rabu, 25 April 2012 | 13:37 WIB ET
(Purna Budi Nugraha/kabarbisnis.com)
(Purna Budi Nugraha/kabarbisnis.com)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Satu unit lagi kapal pesanan PT Pertamina Perkapalan diluncurkan oleh PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS). Kali ini, DPS meluncurkan kapal tanker MT Kasim yang memiliki bobot 6.500 long ton dead weight (LTDW). Peluncuran dilakukan di Surabaya, Rabu (25/4/2012).

Kapal yang menelan investasi sebesar US$14,5 juta ini merupakan kapal ketujuh yang dipesan PT Pertamina sejak tahun 1996. Sebelumnya, Pertamina sudah melakukan pemesanan untuk kapal tanker Kataling, Klasogun, Kotamas, Plaju, Kamojang, dan kakap yang semuanya memiliki bobot 6.500 LTDW.

Direktur Produksi PT DPS, I Wayan Yoga Djunedy mengatakan, selama ini DPS telah berupaya menyelesaikan seluruh pesanan kapal tanker dari PT Pertamina sesuai target waktu yang telah ditetapkan. Namun kali ini, penyelesaiannya memang tidak sesuai dengan jadwal karena adanya kendala keterlambatan kedatangan mesin yang diimpor dari Jepang.

"Karena Jepang mengalami bencana tsunami, akhirnya komponen gearbox yang kami pesan datang terlambat. Imbasnya, penyelesaian kapal MT Kasim menjadi terkendala, molor tiga bulan dari waktu yang ditetapkan," ujar Wayan usai peluncuran kapal tanker MT Kasim.

Gearbox adalah komponen mesin yang bekerja untuk mereduksi putaran mesin ke baling-baling yang diimpor DPS dari Jepang. Akibat keterlambatan tersebut, Wayan mengaku Pertamina pasti akan memasukkannya dalam pos majur atau evaluasi anggaran.

"Ini akan kami terima dengan lapang dada. Tapi biasanya mereka akan melihat alasan kenapa terjadi keterlambatan. Kalau alasannya bisa diterima, harapan kami Pertamina bisa memaklumi. Dan kami berharap, Pertamina akan tetap percaya dan terus melakukan sinergi dengan kami dimasa mendatang," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Senior Vice President PT Pertamina Perkapalan (Persero), Suhartoko mengatakan, memang penyelesaian kapal tanker MT Kasim ini mengalami keterlambatan. Namun hal ini tidak akan berpengaruh pada distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah wilayah Indonesia karena masih bisa dipenuhi dengan menyewa. Sementara kapal MT Kasim sendiri, rencananya akan digunakan untuk distribusi premium, kerosin atau minyak tanah dan solar, untuk kepentingan Indonesia Timur seperti Sulawesi dan Papua.

Suhartoko mengatakan saat ini Pertamina telah mengoperasikan sekitar 180 kapal tanker untuk distribusi BBM ke seluruh wilayah Indonesia. 25% diantaranya adalah kapal milik PT Pertamina sementara yang 75% masih menyewa. Diharapkan, presentasi kepemilikan kapal tersebut akan menajdi 50% hingga 2018.

"Jadi akan ada banyak kapal yang masih akan kita bangun dalam bebebrapa tahun kedepan. Dan kami berkomitmen, untuk pembangunan kapal yang memiliki bobot 17.500 kebawah kami akan prioritaskan untuk galangan kapal dalam negeri," ujar Suhartoko. kbc6

Bagikan artikel ini: