Ruang kantor kini lebih ke tren gaya hidup

Rabu, 10 Oktober 2012 | 23:19 WIB ET
(Ilustrasi/istimewa)
(Ilustrasi/istimewa)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Meski di sejumlah kota besar termasuk Surabaya pasokan ruang perkantoran terus meningkat seiring tingginya kebutuhan, sebagian besar masih memiliki konsep yang konvensional di mana hanya beroperasi atau ramai pada jam-jam kantor.

Namun ke depan tren itu diprediksi akan bergeser, dimana kebutuhan akan ruang kantor bukan saja sebagai tempat bekerja di jam kerja saja, namun lebih dari itu, dimana selain jam operasionalnya tidak dibatasi, konsep ruang kantor akan mengarah ke multifungsi (mixed-used).

Konsultan bisnis dan pakar statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kresnayana Yahya mengatakan, perekonomian Surabaya terus berkembang pesat, baik sektor manufaktur, perdagangan maupun jasa.

"Ke depan akan semakin banyak bisnis baru yang berkembang dan mendorong bertambahnya jumlah pebisnis. Ini akan menjadi peluang bagi pengembang ruang perkantoran," katanya dalam diskusi "Tren Baru Ruang dan Gaya Hidup Bekerja Para Pebisnis Surabaya" di Surabaya, Rabu (10/10/2012).

Dia memprediksi, sektor perdagangan dan jasa di Surabaya akan tumbuh hingga dua kali lipat dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan. "Saat ini sekitar 60 persen dari total uang yang beredar di Jatim ada di Surabaya dan PDRB-nya (Produk Domestik Regional Bruto) mencapai 30 persen dari Jatim," ujarnya.

Terkait gedung perkantoran, Kresnayana mengakui bahwa tren ke depan akan mengarah pada bangunan vertikal dan saling terintegrasi atau multifungsi, serta didukung sarana teknologi, entertainment, daan segala fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup.

Wakil Presdir & COO PT Intiland Development Tbk, Sinarto Dharmawan mengakui, ada perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat atau kalangan pebisnis sekarang dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Pada era modern seperti sekarang, lanjut Sinarto, orang tidak lagi bekerja sesuai jam kerja kantoran, tetapi bisa hingga larut malam dan membutuhkan dukungan sarana memadai.

Menurut dia, tren gedung perkantoran masa depan setidaknya harus memenuhi tujuh kriteria, yakni memiliki sistem informasi, ramah lingkungan, faktor keamanan dan keselamatan. Selain itu, mampu mendukung merek perusahaan, nyaman, serta sarana telekomunikasi yang menunjang kolaborasi kerja.

"Dulu kalau ingin membangun gedung dengan kriteria seperti itu akan dipertanyakan. Namun, sekarang konsep gedung 'mono-use' sudah bukan zamannya lagi," kata Sinarto.

Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di sektor properti, tambah Sinarto, Intiland sejak beberapa tahun lalu terus melakukan inovasi dalam membangun konsep hunian, kawasan industri maupun gedung perkantoran.

Di Surabaya, Intiland sendiri telah meluncurkan produk mixed-use development yang diberi nama Spazio. Megaproyek yang berlokasi di Graha Famili Surabaya Barat itu didesign sebagai area perkantoran yang terintegrasi dengan area kuliner, apartemen, hotel, dan lifestyle outlet untuk kesehatan dan kecantikan.

Dosen Arsitektur Universitas Kristen Petra, Benny Poerbantanoe mengatakan, sudah seharusnya para arsitek mendasarkan pembangunan sesuai dengan nilai-nilai manusia. "Design bangunan tropis jangan diterapkan di wilayah non-tropis," katanya.

Pembicara lain yang hadir dalam diskusi tersebut yakni pebisnis waralaba air minum "Biru", Yance Wongso, dan President Director dan Master Business Coach PT Formula Bisnis Indonesia (FBI), Gendro Salim. kbc7

Bagikan artikel ini: