RI harus siap hadang China di 2015

Rabu, 5 Desember 2012 | 13:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski sektor industri properti di dalam negeri menghadapi berbagai kendala, namun dalam tiga tahun ke depan diharapkan para pelaku usaha sudah siap bertarung di pasar global.

"Pada 2015 kalau kita tidak ikut berkompetisi maka kita akan tersingkir, terutama untuk kendala dalam birokrasi khususnya masalah sertifikasi yang harus dibenaahi, saya harus akui banyak masalah birokrasi yang belum tertangani dengan baik," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat, di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Rabu (5/12/2012).

Menurut Hidayat, dalam proyek real estate ada hal yang penting yakni lokasi dan kepastian hukum. "Bisnis properti kuncinya lokasi, lokasi, lokasi, baru yang berikutnya adalah kepastian hukumnya, hal itu bisa dipastian kalau sertifikatnya keluar," jelasnya.

Secara makro, lanjut dia, GDP Indonesia cukup baik, tercatat tahun ini pertumbuhan ekonomi di bawah sedikit 6,5 persen, selain itu Indonesia juga menjadi nomer dua pertumbuhannya setelah China. Real Estate akan menjadi lokomotif dalam pertumbuhaan ekonomi di Indonesia.

"Namun dari sektor riil kita harus bisa mengikuti pertumbuhan ekonomi tersebut, kalau kita bicara tentang sektor real, infrastruktur, kemacetan, gas dan listrik, itu semua yang menjadi halangan dan menghambat secara struktural," ungkapnya.

Percepatan pertumbuhan dalam sektor industri tidak hanya diikuti oleh efisiensi birokrasi dan pembangunan infrastruktur, hal tersebut menjadi tugas besar bagi pemerintahan sekarang.

"Kontribusi industri masih besar sekira 23,8 persen dibanding sektor pertanian dan sektor lainnya, terutama didominasi sektor properti," ungkapnya.

Saat ini kita sedang membuat road map pembangunan properti di Indonesia, ini semacam garis-garis besar pembangunan properti. Diharapkan hal tersebut mampu memdorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. kbc10

Bagikan artikel ini: