Sarat akan tradisi, budaya dan filosofi hidup lebih baik

Rabu, 12 Desember 2012 | 08:40 WIB ET
Djuhadi Timbul menunjukkan replika Barong. (KB/didik sutrisno)
Djuhadi Timbul menunjukkan replika Barong. (KB/didik sutrisno)

Mengenal lebih dekat suku Using di Banyuwangi

ANTARA Banyuwangi dan Using seakan merupakan dua kata yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi. Bicara Banyuwangi ya bicara Using itu sendiri, sebaliknya, bicara Osing dengan sendirinya akan mengupas Banyuwangi lebih luas.

Di Banyuwangi, suku Using yang bisa dibilang masih kental dan mempertahankan tradisi, budaya dan adat istiadat adalah di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Desa ini juga dijadikan sebagai desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun bagaimana sebenarnya sebutan Using muncul di wilayah ini, sesepuh Desa Kemiren sekaligus suku Using, Djuhadi Timbul memaparkan bahwa memang banyak versi yang mengupas atau menceritakan bagaimana terbentuknya suku dan masyarakat Using di Banyuwangi. Cerita tersebut memang tidak seluruhnya melenceng, karena pada akhirnya bermuara pada ajakan untuk hidup bermasyarakat, dan mensyukuri ciptaan Tuhan.

Namun menurut cerita pria 65 tahun ini yang ia sadur dari cerita turun-temurun dari orang tuanya, sejarah Using terbentuk sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia. Sayangnya tak secara persis menyebut tahun berapa.

"Waktu zaman penjajahan Belanda, di Banyuwangi meletup pertempuran yang disebut perang era-ero. Artinya tentara Belanda tinggal sejodoh karena sudah banyak yang meninggalkan Indonesia, sedang rakyat Indonesia tinggal separoh," cerita Timbul.

Karena jumlahnya yang tinggal sedikit, lanjut dia, orang Belanda tersebut mengajak salah seorang warga Banyuwangi, yakni Cakra untuk diajak mengumpulkan penduduk yang ada di Banyuwangi. Tujuannya untuk mencari orang Bali yang selama ini diburu Belanda untuk dibunuh.

"Karena jika dirunut sejarah, tentara Belanda yang ada di Banyuwangi dan sekitarnya ingin membalas dendam kepada orang Bali karena dulunya banyak mendapat perlawanan, seperti I Gusti Ngurah Rai, dan pahlawan dari Bali lain. Jadi mereka hanya mencari orang Bali dan jika ketemu langsung dibunuh," tukasnya.

Diakui Timbul, sejak lama Banyuwangi ditinggali masyarakat dari berbagai daerah, mulai Bali, Mataram, Madura dan sebagainya. Nah, setiap penduduk yang ditemui dikumpulkan di sebuah lapangan dan ditanya oleh Cakra dan tentara Belanda satu per satu. Jika ketemu dan ada yang mengaku dari Bali langsung ditembak.

"Orang pertama yang ditanya langsung menjawab Using Pak, using melawan. Artinya tidak berani melawan. Begitu juga orang kedua dan seterusnya, termasuk orang Bali juga ikut-ikut menjawab using. Hingga orang terakhir semua menjawab using," beber Timbul.

Tentara Belanda pun akhirnya menyebut bahwa semua yang dikumpulkan itu adalah orang Using. Ia tak menemukan orang Bali. Gagal lah rencana mereka, dan warga Banyuwangi utuh dan tak ada pertumpahan darah berkat pernyataan Using tersebut. Muncullah Banyuwangi disebut masyarakat Using.

Memang, saat itu, masyarakat Using di Banyuwangi tinggal terpisah-pisah. Yang masih banyak ada di Desa Kemiren. Namun dalam tata bahasa, Using menganut 'kiroto boso' yang artinya bahasa yang ditata.

Soal terbentuknya Desa Kemiren, Timbul menceritakan, jika asal muasal desa itu diperkirakan juga dimulai saat zaman penjajahan Belanda. Dari cerita turun temurun yang beredar, awalnya dihuni beberapa orang karena lari dari kejaran tentara Belanda dan pertempuran sengit.

Saat itu masih berupa sawah dan hutan, dan beberapa orang tersebut tinggal bertahun-tahun hingga beranak pinak. Hingga suatu saat antar satu daerah dengan yang lain minta dibuatkan jalan ke arah barat, tepatnya Balebendo. Namun pembuatan jalan itu terhalang dua pohon besar, yakni pohon durian dan kemiri.

"Karena desa itu belum ada nama, akhirnya dinamakan Kemiren, dari dua pohon Kemiri dan Durian itu," tukasnya.

Patuh akan Adat

Djohadi menuturkan, seni di suku Using sangat unik dan mengandung unsur mistik. Kemistikan tersebut merupakan buah dari kedekatan suku Using terhadap alam dan Tuhan. Selain angklung dan gandrung, suku Using juga memiliki kesenian kempul, janger, jaran kincak, kuntulan, tari barong, seblang, jedor, dan lain-lain.

Masyarakat Using, lanjut dia, juga akrab dengan beragam tradisi atau adat. Timbul menyebut, beberapa adat yang hingga kini masih dianut warga diantaranya ider bumi yang biasa digelar setiap hari kedua Idul Fitri, juga tradisi bersih desa, lamaran bagi yang masih lajang, upacara selamatan setiap padi yang ditanam mulai berisi, hingga adat mepe kasur yang biasa digelar di bulan Zulhijah atau bulan haji.

"Adat ini bisa dibilang tak ada yang berani melanggar atau tidak menjalankannya. Karena warga takut kuwalat. Coba sekali-sekali datang ke sini di hari Ahad atau Kamis sore, pasti ada saja orang yang selamatan," jelas ayah tiga anak ini.

Selain itu, masyarakat di Kemiren, setiap usai bangun tidur langsung masak nasi dengan menggunakan kayu bakar. Jika rumahnya sudah kelihatan ada asap, akan tenang seluruh keluarga.

Memang, suasana asri, tenang dan nyaman terasa saat menyusuri jalanan di Desa Kemiren itu. Boleh dikatakan, hampir setiap warga yang kami temui selalu menyapa atau sekadar menganggukkan kepala sebagai pertanda salingg menghormati kepada orang lain, meski belum kenal.

Sambil mengajak berjalan menyusuri jalan kampung, Timbul menunjukkan kami terhadap beberapa rumah warga yang masih menjaga bangunan khas Using. Memang, masyarakat Using khususnya Desa Kemiren masih menganut adanya tiga konsep desain rumah. Ketiganya yakni rumah model cerocogan yang beratap dua, tikel balung dengan model empat atap, dan baresan beratap tiga.

Cerocogan, memiliki arti bahwa kalau seorang pria dan wanita sudah merasa cocok segeralah berumah tangga, sementara Tikel Balung memiliki filosofi bahwa setiap rumah tangga punya permasalahan yang berbeda-beda. Sedang Baresan, mengandung arti jika semua permasalahan bisa dilalui, bereslah rumah tangganya.

Secara umum, bentuk atau tata ruang model bangunan rumah itu sendiri dibagi dalam tiga ruang, yakni biale (serambi), jerumah (ruang tengah + kamar), dan pawon (dapur).

Sementara di halaman atau sekitar rumah sering dipasang kiling (kitiran berbentuk seperti baling-baling di tancapkan di bambu yang tinggi dan ada berbagai macam bentuk manusia, hewan menyertainya ada yang berbunyi dan ada yang tidak jika baling-baling terhembus angin) sebagai media hiasan atau hiburan.

Tak hanya model rumah, salah satu budaya Using, yakni tari Barong juga sarat akan nasihat, meski berbentuk kepala naga. Mulut terbuka pada barong, diakui Timbul sebagai gambaran bahwa masyarakat Osing terbuka dan tidak malu-malu mencari pekerjaan.

"Istilahnya sopo patheng wetenge methenteng, sopo males wetenge keiles (siapa yang giat perutnya akan subur, siapa yang malas akan mudah diinjak-injak, red). Makanya, buka lebar-lebar tangan. Sementara kepala yang besar mengajarkan agar kita tak besar kepala, sedang ekor menggambarkan bahwa kita harus tanggung jawab kepada anak," ujar Timbul yang lama menjabat Kaur Kesejahteraan Rakyat di desanya itu.

Sedang makna dari warna merah, hijau, dan kuning, mengandung arti, dimana merah melambangkan semangat dan cita-cita tinggi, warna hijau identik dengan ketenteraman, sedang warna kuning menyiratkan bahwa manusia harus ingat kepada Tuhan yang menciptakan semua makhluk.

Di Desa Kemiren, kesenian Barong dipimpin Sapi’i selain sebagai pawang dan pewaris dari keturunan sebelumnya. “Tresno Budoyo” adalah nama grup kesenian yang diikuti oleh beberapa pemain dari masyarakat Desa Kemiren sendiri yang biasanya beranggotakan 30 pemain. Barong biasanya dipentaskan semalam suntuk dimulai sekitar pukul 21.00 hingga berakhir pukul 05.00 pagi. kbc7

Bagikan artikel ini: