Majapahit, kerajaan besar dan nama besar di era globalisasi

Minggu, 16 Desember 2012 | 14:57 WIB ET

Tuah kebudayaan nusantara yang hingga kini membawa berkah

MAJAPAHIT, kerajaan besar yang mengalami masa kejayaan di abad ke-14 saat pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, hingga kini memang tetap menjadi legenda yang tak pernah surut oleh jaman.

Wilayah kerajaan/keraton Majapahit, meski hingga kini bangunan fisik kerajaan belum ditemukan, namun dari sisa-sisa peninggalan yang ada, diyakini berada di sekitar Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Perkiraan itu kian kuat mengingat di sekitar wilayah ini banyak ditemukan benda-benda yang diyakini peninggalan kerajaan besar itu, seperti Kolam Segaran, Candi Bajangratu, Candi Tikus, Candi Brahu, Candi Wringin Lawang, Candi Gentong, Candi Kedaton, Pendopo Agung dan temuan benda lain yang hingga kini masih terus bermunculan.

Masih terus melegendanya nama Majapahit bukan saja karena wlayah kekuasaannya yang meliputi seantero Nusantara hingga semanjung Malaysiaa, Singapura, hingga sebagian Fillipina saja, namun karena kesejahteraan yang dirasakan rakyat kala itu.

Kesejahteraan yang dirasakan tersebut rupanya masih berlanjut hingga saat ini, mengingat banyak warga Mojokerto khususnya warga Trowulan dan sekitarnya yang merasakan berkah dan tuah nama Majapahit dalam kehidupan mereka.

Lihat saja, di kawasan Trowulan banyak ditemukan warga yang memilih mata pencaharian sebagai pengrajin patung dari batu. Selain itu juga ada pengrajin arca dari logam jenis kuningan. Tak bisa dipungkiri, pola atau bentuk patung atau arca yang dibuat mereka tak lepas dari 'brand' Majapahit. Mengingat hampir semua wujud patung atau arca yang dibuat adalah miniatur dari patung atau benda-benda zaman Majapahit.

Salah seorang pengrajin patung batu di Trowulan, Deni Indianto mengakui bahwa nama besar Majapahit ikut mengatrol nilai jual patung yang dibuat para pengrajin yang kini mencapai puluhan kelompok usaha di wilayahnya.

"Sejak dulu memang sebagian besar bentuk patung yang dibuat para pengrajin di sini menyerupai patung peninggalan jaman kerajaan, seperti Dewa Shiwa, Dewa Wisnu, Raja Airlangga, hingga patung Budha, dan sebagainya," papar Deni.

'Tuah' yang diberikan kerajaan Majapahit terhadap para warga khususnya pengrajin patung tersebut kian terasa karena kebanyakan pembeli patung-patung itu justru dari luar Jawa, seperti Bali bahkan menembus pasar di sejumlah negara.

"Permintaan dari Bali memang rutin, rata-rata satu kontainer setiap bulan. Namun ada juga pesanan dari buyer di luar negeri, seperti Perancis, Italia, Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya," beber Deni yang rata-rata mematok harga patung buatannya mulai Rp 500.000 hingga puluhan juta rupiah.

Selain menjadikan patung sebagai hasil karya yang dijadikan barang dagangan, kawasan Trowulan dengan banyaknya pengrajin patung juga rupanya telah menjadi objek wisata tersendiri. Banyak wisatawan dari mancanegara yang mampir ke daerah ini untuk sekadar melihat tangan-tangan terampil pematung.

Dan memang, 'nafas' Majapahit cukup terasa ketika melihat satu per satu patung buatan pengrajin di sini. Apalagi para pengrajin sengaja membiarkan patung-patungnya yang lama tidak terjual di luar rumah mereka. Hujan yang kadang menyelimuti patung itu membuat benda ini sedikit berlumut. Kondisi itu justru kian membuat patung ini memiliki 'nyawa'.

Tidak jauh dari Desa Jati Sumber Kecamatan Trowulan tempat para pengrajin patung batu, juga terdapat Desa Bejijong, yang sebagian warganya juga menekuni usaha perajinan cor kuningan. Menariknya, tidak beda dengan patung batu, cor kuningan yang dibuat sebagian besar adalah arca kerajaan.

Pemilik UD Budha Special, Agus Kasiyanto adalah salah satu pengrajin yang lama menekuni usaha ini. Bukan hanya produknya yang telah melalang buana ke sejumlah daerah di Indonesia dan mancanegara, namun usahanya juga menarik minat wisatawan yang ingin melihat cara pembuatan cor kuningan.

Keunikan produk yang dihasikan dengan nuansa Hindu-Budha dan sesekali menghasilkan produk dengan seni kontemporer. "Kami melihat bahwa daya tarik Mojokerto ini adalah peninggalan sejarah dan budaya Majapahit. Nah, sebagai generasi muda kami ingin menjaga peninggalan sejarah ini dan mengenalkan ke dunia luar, melalui hasil karya ini," jelas Agus.

Ia tak menampik bahwa nama besar dan mahakarya Majapahit ikut melambungkan nama Bejijong dan produk yang dibuatnya. "Namun yang pasti kami ingin mewujudkan Desa Bejijong agar bisa dikenal sebagai desa dengan nuansa Kampung Majapahit yang menghasilkan berbagai macam patung khas Hindu-Budha serta berbagai bentuk kerajinan cor kuningan lainnya," ujar Agus.

Memang, jika melihat usaha yang digeluti Deni maupun Agus, selain ingin membesarkan nama daerahnya sebagai pusat kerajaan Majapahit, mereka juga secara tidak langsung ingin mempertahankan karya seni atau produk yang juga pernah dijalankan rakyat di jaman Majapahit dulu.

Lihat saja, ada banyak artefak yang dapat menjelaskan banyak hal termasuk mengenai kehidupan ekonomi masyarakat di jaman Majapahit. Terakota misalnya, atau kerajinan tanah liat era Majapahit. Seni Terakota merupakan satu karakter budaya pada masa Majapahit yang cukup terkenal dan banyak ditemukan. Hasil seni ini diketahui dari peninggalan yang ditemukan baik yang berbentuk arca, bak air, jambangan, vas bunga, hiasan atap rumah, genteng, dinding sumur (jobong), kendi, atau celengan. Semoga mahakarya asli Nusantara ini terus dipertahankan oleh generasi-generasi mendatang. kbc7

Bagikan artikel ini: