Pengolahan limbah dan air di sektor properti, tak lagi sekadar nilai jual

Sabtu, 26 Januari 2013 | 10:59 WIB ET
Jajaran direksi Intiland saat penanaman bibit tanaman langka di Graha Natura.
Jajaran direksi Intiland saat penanaman bibit tanaman langka di Graha Natura.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Konsep properti ramah lingkungan kini mulai menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Tak heran jika kalangan pengembang properti ramai-ramai menerapkan konsep lingkungan hijau dan ramah lingkungan ke dalam proyeknya.

Memang, awalnya langkah itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengangkat nilai jual properti. Namun dalam perkembangannya, kalangan pengembang sadar betul akan manfaat jangka panjang dari konsep itu.

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, konsep properti hijau sudah lazim diterapkan oleh pengembang. Bukan hanya lingkungannya yang dibuat hijau dan asri oleh tanaman peredu, namun juga sistem drainase, pengolahan limbah dan air, hingga konservasi tanaman.

Di Surabaya, beberapa pengembang besar terlihat cukup intensif dalam menerapkan konsep tersebut dalam proyek perumahan maupun komersial. Sebut saja PT Intiland Development Tbk. Di salah satu proyek perumahan yang dikembangkan, yakni Graha Natura, telah dikembangkan program konservasi pohon langka dan penanaman keanekaragaman jenis pohon nasional. Konsep ini diwujudkan dengan mengalokasikan hampir separo dari luas lahan di kawasan Graha Natura untuk area terbuka hijau.

Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer PT Intiland Development Tbk, Sinarto Dharmawan mengatakan, pihaknya berniat untuk menanam sedikitnya 10.000 pohon dari 1.000 jenis berbeda di seluruh kawasan Graha Natura yang rencananya akan memiliki lahan seluas total 100 hektare. Jumlah tersebut mewakili sekitar 25% dari 4.000 jenis pepohonan di Indonesia.

"Saat ini sudah sekitar 3.000 pohon dari 220 jenis pohon berbeda yang ditanam," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Beberapa tanaman tersebut di antarannya jenis pohon langka dan serta memiliki keunikan, antara lain Baobab atau Kalpataru (Adansonia Digitata). Jenis pohon yang bisa berumur ribuan tahun itu ditanam di pintu gerbang utama sebagai simbol kawasan. Baobab merupakan pohon terbesar kedua di dunia setelah Red Wood, karena tingginya bisa mencapai 47 meter dengan lingkar batang bisa mencapai 16 meter.

Jenis tanaman langka lainnya adalah Khaya (Mahony Affica), Pulai atau Devil Rat Tree (Alstonia Scholaris), Kigelia Africana (pohon Sosis), Asoka (Saraca) atau yang lebih dikenal sebagai Ganda Puspa, serta Jusmine Tree atau Kemiri Cina, Silk Cotton Tree atau di Indonesia dikenal dengan nama Randu Alas (Bombax Ceiba).

Selain pohon-pohon langka, Graha Natura juga menanam beragam jenis pepohonan unik atau memiliki fungsi sangat baik bagi kesehatan. Pohon Trembesi, salah satunya, selain dikenal sebagai pohon peneduh, tanaman ini mampu menyerap 22-28 ton karbondioksida per tahunnya. Pohon Trembesi ditanam di sepanjang jalan klaster, sementara untuk jalan utama ditanami pohon Khaya Sinegalensis.

"Kami menjadikan Graha Natura bukan hanya menjadi kawasan hunian yang nyaman, tetapi juga menawarkan inovasi konsep tata lingkungan yang asri dan dan sehat bagi para penghuninya, sehingga mereka yang tinggal di Graha Natura bukan hanya nyaman, tapi juga mengutamakan aspek kesehatan," kata Sinarto.

Selain konservasi tanaman, lanjut Sinarto, konsep kawasan perumahan sehat dan ramah lingkungan diwujudkan antara lain dengan merancang sistem infrastruktur limbah rumah tangga yang terpadu dan terpusat dengan membangun sewarage treatment plant.

"Penempatan septic tank yang ditanam di area rumah sangat rawan dan tidak baik bagi kesehatan karena ada resiko kebocoran yang bisa menyebabkan bakteri berkembang di mana-mana. Di Graha Natura, infrastruktur septic tank dan seluruh limbah cair disalurkan ke pusat pengolahan terpadu, sehingga aman bagi lingkungan dan memenuhi aspek kesehatan bagi para penghuninya," tutur Sinarto.

Diakuinya, guna pengembangan konsep itu, pihaknya rela menginvestasikan dana sekitar Rp 20 miliar dalam pembangunan sistem itu (septic tank integrated sewage system).

Bukan hanya Intiland, pengembang lain yang cukup memerhatikan kesehatan lingkungan dan menjaga ketersediaan air adalah Ciputra Group. Perusahaan ini bahkan telah menerapkan konsep properti hemat energi dan ramah lingkungan pada superblok Ciputra World Surabaya, yang di dalamnya dibangun pusat perbelanjaan, apartemen, hingga hotel.

Direktur PT Ciputra Surya Tbk, Sutoto Yakobus menjelaskan bahwa konsep ramah lingkungan tidak hanya diterapkan pada bentuk bangunan, tetapi juga pemanfaatan energi dan limbah air. "Ciputra World Surabaya boleh dikatakan merupakan pusat perbelanjaan pertama di Surabaya yang menggunakan 'co-generation' untuk suplai tenaga listrik," katanya.

Dipaparkannya, co-generation adalah penggunaan genset gas sebagai sumber energi utama, yang memungkinkan gas buang bisa dimanfaatkan kembali untuk "chiller" dengan kapasitas 1.000 TR (tonner refrigerant). Kapasitas chiller sebesar itu cukup untuk memenuhi sepertiga kebutuhan pendingin ruangan di CWS.

"Kami juga melakukan pengolahan kembali limbah air (recycle water) untuk berbagai kebutuhan, seperti cooling (alat penyejuk) dan flushing (penyiraman tanaman)," ungkap Sutoto.

Memang, kepedulian kedua pengembang properti tersebut belum memberikan manfaat secara luas bagi seluruh masyarakat kota Surabaya, namun paling tidak dengan konsep yang mereka terapkan, selain bisa dinikmati oleh penghuni, juga diharapkan bisa memancing pengembang lain untuk melakukan hal serupa, dalam rangka menjaga lingkungan. kbc7

Bagikan artikel ini: