60% Negara produsen pangan terimbas perubahan iklim

Rabu, 13 Februari 2013 | 18:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sekitar 60% negara produsen pangan terimbas perubahan iklim dan pemanasan global. Tidak terkecuali Indonesia yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada sektor agribisnis.

"Para ilmuwan di seluruh dunia sepakat, perubahan iklim akan memengaruhi sektor pertanian," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan) Haryono di sela acara "High Level Policy Dialogue On Technology Transfer for Smaller Farmer", Rabu (13/2/2013).

Bank Dunia memprediksi, sepanjang tahun ini harga pangan akan turun 3,2%. Hal itu dipicu penurunan tajam pembelian minyak nabati. Namun, realitasnya, cuaca ekstrim-kekeringan yang melanda Amerika Serikat (AS) sementara musim dingin di China menyebabkan peningkatan harga gandum dan jagung secara mendadak.

Hal sama juga dialami komoditi kedelai. Terjadinya gagal panen akibat kekeringan di AS memicu kenaikan harga kedelai di pasar internasional. Harga kedelai pada permintaan Maret naik 1,6% menjadi US$ 14,36 per gantang di CBOT. Posisi tersebut merupakan level tertinggi sejak 12 Desember 2012. Melonjaknya harga pangan itu tentunya menjadi masalah besar bagi negara yang sumber bahan pangannya berasal dari impor.

Indonesia, sambung Haryono, terus menyiapkan antisipasi dini guna meminimalisir dampak perubahan iklim. Diakui, pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Tanpa ditindaklanjuti dengan program adaptasi,tentunya hal itu memiliki implikasi besar terhadap ketahanan pangan nasional.

Balitbang, sambung Haryono, terus menginiasasikan adaptasi melalui kebijakan teknologi dengan mendorong penciptaan varietas padi. Pasalnya, padi merupakan komoditas pangan paling esensial untuk mayoritas masyakat Indonesia.

Balitbang Kementan, kata Haryono, telah menciptakan benih varietas unggul yang tahan kekeringan, hama dan hidup dalam rendaman air dalam jangka waktu tertentu.Bahkan, baru baru ini pihaknya juga berhasil mengembangkan benih

Varietas unggul yang tahan delinasi (garam)

"Perubahan iklim membuat suhu air naik, selanjutnya hal itu membuat permukaan air laut naik dan membawa kandungan garam ke areal persawahan padi," paparnya. kbc11

Bagikan artikel ini: