Bor laut dalam RI, 12 kontraktor asing rugi Rp19 triliun

Rabu, 12 Juni 2013 | 13:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Dalam kurun waktu 2009-2013, sebanyak 12 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Minyak dan Gas Bumi asing mengalami kerugian mencapai US$1,9 miliar atau Rp 19 triliun. Kerugian tersebut diderita akibat gagal mendapat cadangan migas yang ekonomis di 16 blok eksplorasi.

Ke-12 KKKS tersebut adalah ExxonMobil di WK Surumana, ExxonMobil di WK Mandar, Statoil di WK Karama, ConocoPhilips di WK Kuma, Amborip VI, Arafura Sea, Talisman di WK Sageri, Marathon di WK Pasang Kayu, Tately di WK Budong-Budong, Janex di WK Buton, CNNOC di WK SE Palung, Hess di WK Semai IV, Niko Resources di WK Kofiau, West Papua IV dan North Makassar Strait, serta Murphy Oil di WK Semai II.

Deputi Pengendalian Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Aussie B. Gautama mengatakan, seluruh kerugian tersebut ditanggung sendiri oleh KKKS asing dan tidak diganti oleh Negara. Akibat kerugian tersebut, beberapa KKKS berniat hengkang dari wilayah kerjanya.

"Sejumlah KKKS asing tersebut berniat hengkang dari wilayah kerja tersebut dan berencana mengembalikan wilayah kerja eksplorasi kepada Pemerintah,” ujar Aussi di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Ia menegaskan, eksplorasi hulu migas untuk penambahan cadangan minyak dan gas demi kepentingan Negara semakin sulit lantaran potensi yang ada lokasinya di laut dalam. Pemboran eksplorasi minyak dan gas bumi di laut dalam telah dimulai sejak tahun 2009 hingga tahun 2013 oleh 12 KKKS di 16 blok.

Pengeboran eksplorasi telah dilakukan sebanyak 25 sumur eksplorasi yang menghabiskan biaya sekitar US$1,9 miliar dan hingga saat ini belum berhasil menemukan cadangan migas yang komersil. "Bahkan setelah dilakukan pengeboran di laut dalam, sejumlah KKKS asing yang sudah bersedia menjadi kontraktor dan operator di Blok eksplorasi laut dalam mengalami kegagalan menemukan cadangan migas," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: