Meski harga naik, rakyat tak akan kurangi konsumsi BBM

Rabu, 26 Juni 2013 | 17:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) premium bersubsidi Rp 6.500 per liter dan solar Rp 5.500 per liter tidak akan menyurutkan pertumbuhan konsumsi BBM.

Lembaga riset Kadendace Indonesia di Jakarta, Rabu (26/6/2013) mengungkapkan itu merujuk survei yang dilakukan di Surabaya, Balikpapan, Makassar, Jabodetabek, dan Medan.

Managing Director Kadence Indonesia, Vivek Thomas Kadence, mengatakan, pola pengeluaran masyarakat untuk BBM tidak akan berubah. Bahkan, masyarakat akan menambah uang untuk membeli BBM tapi tidak akan mengurangi volume konsumsinya.

"BBM itu pengeluaran esensial yang tidak bisa diganti. Meski pemerintah ingin konsumsinya berkurang, tapi saya sebagai pengguna tidak bisa mengurangi. Apalagi tidak ada alternatif angkutan umum," ujar Vivek di Jakarta, Rabu (26/6/2013).

Karenanya,Vivek memprediksi, volume konsumsi BBM per liter per hari terus meningkat. Hasil survei sendiri menunjukkan 50% responden akan mempertahankan jumlah pengeluaran untuk BBM, sementara 35% akan menambah uang untuk membeli BBM. Hanya 18% yang mengaku akan mengurangi pembelian BBM karena harga naik.

Kesimpulan yang sama berlaku untuk air, listrik, dan gas. Para responden mengaku akan menambah jumlah uang untuk membayar air, listrik, dan gas meski harga naik.

Ada tujuh kategori produk yang konsumsinya tidak akan berkurang berdasarkan riset Kadence. Konsumsi makanan, susu, obat-obatan, minuman, produk perawatan tubuh, produk kebutuhan rumah tangga, dan pulsa isi ulang tidak akan berubah dari porsi pengeluaran.

Karena menambah belanja untuk BBM dan tidak mengurangi belanja makanan dan obat-obatan, konsumsi yang akan turun adalah rokok, konsumsi makanan di restoran, dan pakaian dan aksesori. Satu lagi yang akan turun, kata Vivek, adalah tabungan.

"Rata-rata tabungan akan turun 16% per orang. Jika rata-rata tabungan responden sebelumnya Rp 977.000, setelah harga BBM naik tabungan akan menjadi Rp 823.000 perbulan," terang Vivek.

Penurunan tabungan terbesar terjadi di Jabodetabek sebesar 18% sementara di Balikpapan 19%. Yang juga menarik, sambung Vivek, adalah penurunan tabungan berdasarkan jenis kelamin. Jika laki-laki menyebutkan akan menurunkan jumlah tabungan 12% per bulan, perempuan mengaku akan menurunkan 20%.

"Perempuan adalah pengontrol keuangan keluarga. Menarik bahwa perempuan mengatakan 20% tabungan akan diturunkan," kata dia.

Dampak perubahan pola konsumsi ini, menurut Vivek, akan terjadi selama 5-6 bulan setelah kenaikan harga BBM. "Karena perekonomian Indonesia cukup kuat terhadap goncangan, setelah 5-6 bulan, pola pengeluaran akan kembali ke sebelumnya," pungkasnya.

Survey Kadence Indonesia menggunakan 500 responden dengan pembobotan yang dinilai bisa merepresentasikan seluruh Indonesia. Setengah dari responden adalah perempuan, sementara setengahnya lagi laki-laki.

Kadence Indonesia juga melakukan pembobotan usia dan kelas sosial. Survey tersebut dibuat pada 23 Mei sampai 3 Juni 2013. kbc11

Bagikan artikel ini: