Diserbu produk impor, penjualan Trias Sentosa terkikis 3%

Jum'at, 22 November 2013 | 19:14 WIB ET
(KB/Purna Budi Nugraha)
(KB/Purna Budi Nugraha)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Membanjirnya produk impor dengan harga murah rupanya ikut menggencet penjualan PT Trias Sentosa Tbk. Sepanjang periode Januari-September 2013, emiten produsen kemasan plastik fleksibel ini membukukan penjualan bersih Rp1,452 triliun, turun 3% dibanding periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp1,496 triliun.

Presiden Direktur PT Trias Sentosa Tbk. Sugeng Kurniawan mengatakan, produk-produk plastik fleksibel impor yang membanjiri pasar domestik paling banyak dari China dan India. Ia mencontohkan, produk plastik jenis BOPP film impor yang masuk pasar Indonesia rata-rata mencapai 16.000-20.000 ton per tahun.

"Dengan begitu otomatis persaingan cukup ketat karena supply lebih besar dari demand, sehingga mau tak mau kita harus menyesuaikan harga jual," kata Sugeng pada paparan publik perseroan di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (22/11/2013).

Bukan hanya di pasar lokal, di pasar ekspor pun perseroan juga harus berhadapan dengan bea asuk anti dumping yang dikenakan negara Malaysia sejak awal tahun 2013 ini, dan Korea Selatan pada semester II tahun ini.

Ditambah lagi dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS, yang membuat penjualan maupun laba perseroan ikut terkikis. Perlu diketahui, pada sembilan bulan pertama tahun 2013, perseroan mencatat laba bersih Rp 21,8 miliar atau turun 62% dibandingkan dengan periode sama 2012 senilai Rp60,3 miliar. Penurunan ini diantaranya disebabkan rugi selisih kurs yang mencapai Rp34 miliar.

Untuk mendongkrak kembali kinerja perseroan, lanjut Sugeng, pihaknya terus meningkatkan produk kemasan fleksibel bernilai tambah tinggi. Jika sebelumnya komposisi produk ini di kisaran 49%, saat ini pihaknya sudah berhasil meningkatkannya menjadi 52%.

"Salah satunya adalah tahun ini perseroan telah menyelesaikan project investasi BOPP yang baru senilai US$35 juta, untuk penambahan kapasitas sebesar 30.000 ton. Saat ini kapasitas produksi perseroan sebesar 130.000 ton untuk film making, dan 28.000 ton per tahun untuk converting," pungkas Sugeng. kbc7

Bagikan artikel ini: