Pesawat Malaysia Airlines ditembak jatuh, Wall Street tergelincir

Jum'at, 18 Juli 2014 | 08:03 WIB ET

NEW YORK, kabarbisnis.com: Berita jatuhnya pesawat milik Malaysia Airlines berisi ratusan penumpang di dekat perbatasan Ukraina-Rusia rupanya membuat pasar saham Amerika Serikat (AS) ikut 'tergelincir'. Pada penutupan perdagangan Jumat (18/7/2014) pagi ini, di mana indeks saham S&P 500 membukukan penurunan satu hari terbesar sejak 10 April.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 161,39 poin atau 0,94 persen, berakhir pada level 16.976,81. Indeks saham The S & P 500 kehilangan 23,45 poin atau sekitar 1,18 persen, menjadi 1.95,12.

Sementara indeks Nasdaq Composite turun 62,52 poin atau 1,41 persen, menjadi ditutup pada 4.363,45. Indeks Volatilitas CBOE, ukuran ketakutan Wall Street melonjak 32,2 persen menjadi 14,54, ini merupakan level tertinggi sejak 15 April.

Melansir laman Reuters, para investor menjual saham mereka sebagai sebuah langkah untuk menghindari risiko dan mengalihkannya pada investasi yang lebih aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS.

Mereka khawatir jatuhnya pesawat Malaysia Airlines memicu kekhawatiran melebarnya konflik di Ukraina setelah AS menyatakan sanksi terhadap Rusia.

Hampir 300 orang tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut, disebabkan tembakan rudal, menurut pernyataan resmi.

Pasar saham AS juga ditekan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang memerintahkan militer untuk memulai serangan darat di Gaza. Diketahui tentara Israel menembakkan artilerinya di sepanjang perbatasan Gaza.

"Saya tidak ingat waktu kapan kondisi geopolitik menciptakan ketidakpastian di pasar," kata Michael Mullaney, Kepala Investasi di Fidusia Trust Co di Boston. kbc10

Bagikan artikel ini: