Temu bisnis pengusaha Jatim dengan Papua catat transaksi Rp17 miliar

Jum'at, 31 Oktober 2014 | 11:30 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Upaya peningkatan laju perdagangan antar pulau Provinsi Jawa Timur yang dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) melalui lawatan mereka ke Jayapura Papua menuai hasil yang memuaskan.

Dalam pertemuan business to business dengan pengusaha Jaya Pura Papua kemarin, mereka berhasil membukukan transaksi perdagangan antara Jatim dengan Papua sebesar Rp 17 miliar. Sementara potensi perdagangan yang diperkirakan segera bisa terealisasi mencapai sebesar Rp 41 miliar.

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan antar Pulau, Diar Kusuma Putra mengatakan, antusiasme pengusaha Papua untuk melakukan pertemuan bisnis dengan pengusaha Jatim cukup besar. Hal ini terlihat dari banyaknya pengusaha Papua yang datang dan ikut berpartisipasi yang mencapai lebih dari 400 pengusaha dari target awal sebanyak 150 pengusaha.

"Mereka sangat senang dengan kedatangan kami, karena memang seluruh kebutuhan di Papua sebagian besar dipasok dari Jatim," ujar Diar Kusuma Putra ketika dikonfirmasi dari Surabaya, Jumat (31/10/2014) pagi.

Beberapa komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat Papua diantaranya adalah komoditas pertanian, bahan pokok, bahan kebutuhan sehari-hari, pupuk ataupun benih dan masih banyak lagi. Sementara potensi Papua yang bisa dipasok dan dibawa ke Jatim diantaranya adalah umbi porang dan biji jambu mente.

"Papua memiliki potensi yang cukup besar. Dengan masih minimnya pembangunan industri di Papua, Papua masih sangat tergantung dengan daerah industri yang bisa memasok kebutuhan mereka. Sementara Jatim memiliki seluruhnya. Untuk memperlancar kegiatan perdagangan ini, dalam waktu dekat kami merencanakan untuk mendirikan kantor perwakilan dagang di Papua," ujarnya.

Sejauh ini, lanjut Diar, Kadin Jatim memang terus berupaya mempercepat laju perdagangan antar pulau melalui pertemuan b to b yang telah berpuluh kali digelar. Bahkan, Kadin Jatim juga telah memprakarsai terjalinnya kerjasama dengan 25 provinsi di seluruh Indonesia untuk memperlancar dan memperkuat perdagangan antar pulau di seluruh Indonesia. Hasilnya luar biasa, perdagangan antar pulau atau perdagangan domestik Jawa Timur terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2011, realisasi ekspor antar pulau Jatim mencapai Rp 249 triliun dan realisasi impor antar pulau Jatim mencapai Rp 213 triliun. Di tahun 2012 realisasinya meningkat menjadi Rp 301 triliun untuk ekspor antar pulau dan impornya mencapai Rp 238 triliun. Di tahun 2013, laju ekspor antar pulau kembali mengalami kenaikan menjadi Rp 346 triliun, sementara impor mencapai Rp 275 triliun. Dan di tahun ini sampai semester I, realisasi ekspor sudah mencapai Rp 199 triliun dengan impor yang mencapai Rp 157 triliun.

Selain kerjasama perdagangan, Kadin Jawa Timur dengan Kadin Papua juga menjalin kerja sama untuk pengolahan potensi alam Papua. Karena sebenarnya potensi disana sangat kaya tetapi pengelolaannya kurang maksimal. Dari sejumlah bidang usaha yang ditawarkan, permintaan paling tinggi adalah bidang usaha packaging.

Hanya saja, menurut Diar, masih banyak kendala yang dihadapi dalam kelancaran arus distribusi barang dari Jatim ke Papua atau sebaliknya.

"Tidak hanya dengan Papua, persoalan transportasi saat ini memang masih menjadi persoalan dominan dalam perdagangan antar pulau, wilayah dan provinsi. Dalam beberapa kasus, transportasi domestik antar pulau lebih mahal dari pada transportasi internasional, misalnya ke Hongkong atau ke Singapura. Untuk itu diperlukan pemikiran bersama antara para pelaku usaha dan Kadin dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah selaku regulator, untuk mencari solusi efektif mengatasi kendala tersebut. Sehingga peningkatan transaksi bisnis antar pulau, wilayah dan provinsi semakin pesat, dengan itu akan mengurangi ketergantungan kita pada produk impor," kata Diar.

Untuk itu, Kadin berharap pelaku usaha dibidang pelayaran juga memberikan peran yang lebih signifikant dalam tercapai sebuah sistem logistik nasional yang kompetitif, baik dari harga maupun pilihan alternatif provider pelaku jasa angkutan antar pulau.

"Masalah logistik secara nasional masih banyak memiliki kendala, saatnya kita bersinergi bersama pada posisi kita masing-masing memberi kontribusi dalam sistem perekonomian nasional. Apalagi tahun depan pasar bebas Asean atau yang dikenal dengan Masyarakat Ekonomi asean juga sudah mulai dilaksanakan" harapnya.

Pada kesempatan tersebut, ujar Diar, Gubernur Papua, Lukas Enembe sangat antusias dan senang menyambut delegasi pengusaha dari Jatim. Ia berharap, melalui pertemuan tersebut perekonomian Papua akan bisa terdongkrak, karena sejauh ini Papua sangat tertinggal dari sisi pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Papua tak tersentuh sejak 1969. Dan baru mulai tersentuh setelah masa reformasi, dimana orang Papua diberikan kesempatan yang luar biasa untuk mengembangkan perekonomian di tanahnya sendiri.

Hanya saja, karena industrialisasi di Papua masih sangat terbatas, maka dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Papua yang mencapai Rp 50 triliuna, sebagian besar atau sekitar 70% terserap Jawa Timur dan Sulawesi Selatan karena semua bahan material belanja diperoleh dari kedua Provinsi tersebut.

"Mereka juga berharap, ini akan menjadi pintu masuknya industrialisasi ke Papua sehingga perekonomian disana akan mengalami perbaikan," pungkas Diar.kbc6

Bagikan artikel ini: