Kadin Jatim dorong peningkatan ekspor ke Chile

Rabu, 27 Mei 2015 | 22:55 WIB ET
(KB/Purna Budi)
(KB/Purna Budi)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kinerja ekspor non migas Jawa Timur ke Amerika Selatan, khususnya Chile terus merosot. Hal ini mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim untuk terus mendorong peningkatan kinerjanya di tahun mendatang dengan memperkuat hubungan bisnis dengan pengusaha disana.

Wakil Ketua Umum Bidang Fiskal dan Moneter - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Tommy Kaihatu, mengatakan meski Indonesia sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Chili selama 50 tahun, tetapi ekspor Jatim ke Chile terus berkurang.

"Ekspor ke Chile dianggap tidak menguntungkan bagi pengusaha di sini, selain itu mereka menganggap potensi pasar dalam negeri masih sangat besar dan banyak hambatan ekspor menuju Chili. Namun anehnya kok Tiongkok bisa menjalin hubungan baik dengan Chile?," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Amsel & Karibia Kementerian Luar Negeri RI, Mustofa Taufik Abdul Latif mengatakan, rendahnya kinerja ekspor Indonesia, khususnya Jatim ke Chile dipicu oleh berbagai faktor. Selain situasi politik disana yang tidak stabil, juga disebabkan oleh jauhnya jarak sera ketidaktahuan pengusaha Jatim tentang karakteristik pasar Chile.

Padahal Chile sama potensialnya dengan beberapa negara lain di Amerika karena besarnya jumlah penduduk dan tingginya pertumbuhan ekonomi disana.

"Untuk itu, melalui seminar yang digelar ini, kami berharap pengusaha Jatim akan lebih mengenal dan paham tentang karakteristik pasar Chile dan apa yang dibutuhkan mereka sehingga nantinya kinerja ekspor ke Chile akan terdongkrak. Defisit perdagangan Jatim dengan Chile harus bisa dikejar," ujarnya.

Untuk diketahui, neraca perdagangan Jatim-Chile sejak 5 tahun terakhir mencatatkan defisit. Pada 2010, ekspor Jatim mencapai US$11,71 juta dan impor US$32,31 juta atau mengalami defisit US$20,60 juta, pada 2011 ekspor US$10,49 juta dan impor US$35,84 juta atau defisit US$25,35 juta, pada 2012 ekpornya tercatat US$12,47 juta dan impor US$37,09 juta atau defisit US$24,62 juta.

Pada kesempatan yang sama, Assisten II Pemerintah Provinsi Jatim Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hadi Prasetyo mengatakan bahwa upaya peningkatan kinerja ekspor Jatim memang harus terus dilakukan, termasuk dengan membuka pasar non tradisional seperti Chile.

"Pemrov Jatim akan terus berupaya membantu pengusaha untuk meningkatkan kinerja ekspor mereka. Karena Jatim harus bersiap untuk menghadapi perdagangan bebas yang akan diberlakukan, termasuk dengan akan diberlakukannya perjanjian Masyarakat Ekonomi Asean atau MEA," katanya.

Untuk itu, saat ini Pemprov Jatim telah menyelesaikan sau kebijakan strategis yang tidak umum, yaitu dengan membentuk lembaga fungsional yang bentuknya seperti lembaga swasta. Lembaga yang diberi nama " East Java Global Ecconomy Search". Lembaga ini nantinya akan menginformasikan segala tentang ekspor dan impor lewat website atau internet.

"Untuk mewujudkan keinginan tersebut, kami sudah bekerjasama dengan Telkom dan Telkomsel. Di website itu nantinya tertera segala sesuatu soal ekspor dan impor. Ada juga soal konsultasi," ujar Hadi Prasetyo.

Tahap awal, website akan terhubung dengan 10 negara Asean. Layanan ini juga terhubung dengan Kadin di 10 negara tersebut agar mereka bisa mengupdate data mereka. "Kalau ini terwujud, maka tidak akan mempermalukan Jatim. Dan kami berharap sistem ini akan mulai beroperasi pada akhir tahun ini," katanya.kbc6

Bagikan artikel ini: