Teror bom Sarinah diyakini tak kendurkan minat investasi

Jum'at, 15 Januari 2016 | 17:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meyakini  teror bom yang terjadi di Jalan MH Thamrin, kemarin tidak berpengaruh terhadap minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini didasarkan dari hasil pertemuan dengan beberapa calon investor potensial di Shanghai, Tiongkok.

Kepala BKPM, Franky Sibarani, dalam keterangan di Jakarta, Jumat (15/1/2016) mengatakan, para investor Tiongkok mengemukakan secara umum keamanan di Indonesia masih terkendali. Terlebih investasi yang dilakukan oleh investor Tiongkok tidak terpusat di Jakarta. "Para investor juga melihat kesigapan aparatur pemerintah baik kepolisian maupun aparat keamanan lainnya dalam menangani peristiwa yang terjadi di Jakarta tersebut. Para investor merespons positif statement dan langkah cepat yang diambil oleh Presiden," kata Franky.

Ia  juga menginstruksikan 8 kantor perwakilan yang ada di luar negeri untuk berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri untuk terus mengkomunikasikan perkembangan peristiwa serta kondisi keamanan di Indonesia kepada para calon investor maupun investor existing. "Persepsi positif mengenai keamanan berinvestasi di Indonesia merupakan salah satu poin daya saing investasi Indonesia," ujarnya.

Franky menyatakan masih optimismenya investor Tiongkok terhadap minat menanamkan modal di Indonesia terlihat dari rencana investasi di smelter senilai US$ 612 juta. Guna merealisasikan rencana investasi tersebut, Ia mengaku pihaknya akan memfasilitasi investasi investor existing di bidang smelter dengan nilai investasi mencapai US$612 juta (atau sekitar Rp 8,2 triliun dengan kurs US$ Rp 13.500).

Franky menuturkan investor tersebut menyampaikan beberapa kendala terkait kegiatan operasional mereka di Indonesia mulai dari mendapatkan bahan baku, masalah pajak dan insentif investasi, serta tenaga kerja. Induk perusahaan di Tiongkok tersebut, kata dia, juga memiliki sembilan perusahaan patungan di Indonesia termasuk pengembangan industri smelter dan PLTU di Morowali, Sulawesi Tengah.

Menurut Franky investor asal Tiongkok ini memiliki kapasitas produksi smelter nikel sebesar 300.000 ton dan PLTU dengan kapasitas mencapai 130 MW (2 x 65 MW). "Investasi yang dilakukan cukup penting, karena merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mengolah ferronickel menjadi stainless steel," ujarnya.

Ia menambahkan beberapa investasi dari Tiongkok yang sedang dalam masa konstruksi merupakan investasi di bidang smelter. Selain di Morowali, tercatat terdapat investasi Smelter dari Tiongkok di Bantaeng, Sulawesi Selatan senilai Rp1,7 triliun. Sementara industri smelter berdasarkan data realisasi investasi Januari – September 2015 di Indonesia mencapai angka Rp 12,1 triliun dari 170 proyek.

Franky menambahkan Tiongkok termasuk negara teratas yang mencatatkan nilai rencana investasi di Indonesia. BKPM mencatat sepanjang tahun 2015, pengajuan izin prinsip dari Tiongkok yang masuk ke BKPM mencapai angka Rp 277 triliun. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar di atas Singapura sebesar Rp 203 triliun dan Jepang sebesar Rp 100 triliun.kbc11

Bagikan artikel ini: