Terpilih secara aklamasi, Kuswana pimpin Hipmi Surabaya hingga 2019

Minggu, 17 Januari 2016 | 18:21 WIB ET
Kuswana Mandiri Septian
Kuswana Mandiri Septian

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tampuk pimpinan Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda ( BPC Hipmi) Surabaya periode 2016-2019 akhirnya dipegang oleh Kuswana Mandiri Septian. Kuswana terpilih secara aklamasi setelah dua kandidat lain, yakni Yudhi Prasetiawan dan Radityo Suryo Hartanto, mundur dan menyerahkan kepemimpinan BPC Hipmi Surabaya kepadanya.

Kuswana Mandiri Septian adalah pengusaha muda yang menggeluti usaha di bidang otomotif. Ia memiliki jaringan atau outlet dealer motor suzuki di Surabaya dan sekitarnya. Ia juga memiliki usaha pendukung lain yaitu Doktor Ban. Pria kelahiran tahun 1986 di Jember tersebut mulai aktif di Hipmi Surabaya sejak tahun 2011. Pada periode sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum BPC Hipmi Surabaya

Dalam perbincangannya dengan wartawan, ia mengatakan bahwa terpilihnya ia menjadi Ketua Umum Hipmi Surabaya adalah amanat dan tanggung jawab yang harus diemban untuk membawa Hipmi Surabaya menjadi semakin baik. "Kepengurusan ini hanya tiga tahun, tetapi itu tergantung pada pribadi kita bagaimana mengisinya agar Hipmi Surabaya menjadi lebih kuat," tegas Kuswana Mandiri saat ditemui usai penutupan Musyawarah Cabang (Muscab) Hipmi Surabaya di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Minggu(17/1/2016).

Ada beberapa hal yang segera ia lakukan setelah pemilihan ini, diantaranya adalah menyatukan kembali seluruh anggota Hipmi Surabaya dalam bingkai kebersamaan. Ia akan berupaya mengumpulkan seluruh anggota Hipmi yang awalnya terpecah akibat adanya pemilihan Ketua Umum Hipmi Surabaya periode 2016-2019.

"Saya akan segera kumpulkan, calon Ketum yang lain bersama timnya untuk duduk bersama. Tidak ada lagi kubu-kubuan. Semuanya lebur menjadi satu untuk merumuskan program kerja Hipmi Surabaya untuk tiga tahun kedepan. Karena program mereka juga sangat luar biasa dan sangat disayangkan jika tidak terakomodir," katanya.

Sementara beberapa program yang sempat ia usung saat pencalonan dan nantinya akan kembali didiskusikan adalah meningkatkan sinergitas antar anggota melalui berbagai kegiatan yang bersifat sosial. Melalui kegiatan yang digelar tersebut diharapkan hubungan seluruh anggota Hipmi Surabaya akan semakin erat dan akhirnya tidak menutup kemungkinan juga akan menelurkan sinergi bisnis antara mereka. 

"Karena kegiatan sosial itu kan biasanya murni untuk kemaslahatan lingkungan masyarakat dan bukan untuk peningkatan kinerja usaha yang mereka miliki. Makanya biasanya mereka akan lebih akrab jika disatukan dalam kegiatan tersebut," terangnya.

Selain itu, untuk menularkan virus enterpreneur atau wirausaha, ia ingin memanfaatkan media berbasis gambar dan media sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Ia ingin membuat satu video inspiratif yang akan diunggah di Youtube yang bisa disaksikan oleh seluruh pengusaha di Surabaya atau bahkan di Indonesia. Harapannya, mereka yang belum berwirausaha akan tertarik dan akhirnya memutuskan untuk berwirausaha. Membangun usaha sendiri yang nantinya bisa menyerap tenaga kerja dan memajukan ekonomi Indonesia.

"Hipmi Surabaya harus menjadi percontohan bagi Hipmi lain di seluruh Indonesia. Surabaya harus lebih dulu berpacu menyebarkan virus enterpreneur ke seluruh penjuru tanah air," katanya.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan transfer keilmuan antar anggota. Pengusaha kecil atau pemula, harus diberikan kesempatan untuk berkarya. Caranya bisa dengan meminta pemerintah untuk lebih simpati dan mau memberikan kesempatan kepada mereka mengerjakan berbagai proyek yang ada. 

"Pemerintah harus peduli dan memberikan kesempatan kepada mereka. Karena 10 tahun hingga 15 tahun kedepan, pengusaha muda inilah yang akan menjadi penentu pergerakan ekonomi bangsa," tegas Kuswana. 

Terkait Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah mulai diberlakukan, ia mengatakan bahwa MEA tidah harus menjadi hal yang menakutkan. MEA harus ditangkap sebagai peluang untuk melakukan ekspansi bisnis ke berbagai negara di Asean. "Boleh saja mereka, masyarakat dari negara lain datang dan bekerja disini. Tetapi melalui sinergitas pengusaha dan kuatnya landasan ekonomi kita, maka kita akan tetap menjadi tuan di rumah sendiri. Kita tetap menjadi penentu dan pemilik usaha sementara mereka menjadi pekerja," katanya.kbc6   

Bagikan artikel ini: