Sepanjang 2009, tak ada ruas tol yang berhasil ditender

Senin, 19 Oktober 2009 | 16:10 WIB ET

SURABAYA - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menyatakan tidak ada satu pun ruas tol yang ditender pada tahun ini. Sejumlah ruas tol yang semula dinyatakan siap tender kini dievaluasi ulang oleh BPJT.

Kepala Bidang Teknik BPJT Adi Soelistijo mengatakan, evaluasi ulang dilakukan dalam hal teknis maupun kelayakan ekononomis. Dua hal ini sangat penting untuk menarik minat investor agar mau ikut serta dalam tender.

"Belum ada yang ditender selama tahun ini. Kami sedang mengevaluasi ulang," ujar Adi menjawab kabarbisnis.com di Surabaya, Senin (19/10/09).

Adi mengatakan, rencana tender terakhir dilakukan pada akhir tahun lalu untuk tiga ruas tol di luar Jawa dan satu ruas di Jawa. Di luar Jawa, semuanya berada di Sumatera. Sementara yang di Jawa merupakan ruas tol Pandaan-Malang sepanjang 37 kilometer.

"Terakhir tender 2008 batch 4 itu, yang lain belum ada. Kini empat ruas tol itu kami evaluasi ulang," tuturnya.

Dia mengatakan, kemungkinan besar pembiayaan ruas-ruas tol tersebut sedikit berbeda dengan proyek tol lainnya. "Bentuk penyertaan pemerintah mungkin akan lebih banyak. Tapi, kepastiannya kita tunggu saja," ujarnya.

BPJT, kata dia, akan segera mempercepat evaluasi terhadap ruas-ruas tol tersebut. "Kami lihat Gempol-Pandaan itu sangat penting dalam menunjang perekonomian Jatim, meski tidak termasuk dalam skema trans Jawa," ujarnya.

Menurut Adi, pihaknya kini masih memprioritaskan pembangunan jalan trans Jawa mengingat pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur untuk mendinamisasi perekonomian. Jalur trans Jawa juga lebih layak dari segi finansial untuk menarik minat investor. Hal itu berbeda dengan ruas tol di luar Jawa yang kelayakan ekonomisnya masih rendah. Kelayakan ekonomis ini terkait pergerakan barang dan jasa yang berpotensi menggunakan ruas tol bersangkutan. Sehingga, bisa diukur sejauh mana keuntungan finansial yang didapatkan investor ketika ruas tol tersebut sudah beroperasi.

"Kalau di luar Jawa memang kelayakan finansialnya rendah. Jadi, investor juga berpikir ulang untuk ikut berinvestasi. Di sinilah sebenarnya kita perlu sunk cost dari pemerintah karena tujuannya memang jangka panjang untuk menggerakkan perekonomian," kata Adi.

Sunk cost yang dimaksud adalah kesediaan pemerintah mengeluarkan dana terlebih dahulu untuk menggarap tol tanpa mengharap keuntungan dari investasi awal di proyek tersebut.

Saat ini, sambung dia, sebenarnya juga ada banyak ruas tol yang siap ditender, baik di Jawa maupun luar Jawa. Dia mencontohkan sejumlah ruas tol, seperti Medan-Binjai (15,8 km), Medan-Tebing Tinggi (60 km), Palembang-Indralaya (22 km), Pekanbaru-Dumai (40 km), Manado-Bitung (41 km), Cileunyi-Sumedang (25 km), Sukabumi-Ciranjang (31 km), Serangan-Tanjung Benoa (7,5 km), Soreang-Pasir Koja (15 km), dan Pandaan-Malang (37 km).

"Seperti Cileunyi-Sumedang atau Sukabumi-Ciranjang itu juga cukup penting. Tapi, semuanya kami kaji kembali. Semoga tahun depan itu semua bisa berjalan," katanya. kbc5

Bagikan artikel ini: