Penjualan menyusut, perusahaan sawit Bakrie rugi Rp514 miliar

Kamis, 31 Maret 2016 | 13:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 514,569 miliar di sepanjang tahun 2015. Rugi ini menyusut 17,5% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 623,581 miliar.

Demikian disampaikan perseroan dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/3/2016).

Perseroan membukukan nilai penjualan sebesar Rp 2,021 triliun disepanjang tahun 2015 atau merosot 23,33% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,636 triliun.

Penjualan tersebut berasal dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 1,5 triliun dan komoditas karet Rp 0,5 triliun.

Produksi inti dua komoditas itu tetap stabil di tengah pelemahan harga komoditas di pasar global, diskon harga domestik CPO (Crude Palm Oil) akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

"Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan 'zero-burning' (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktifitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie," ujar Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto.

Menurut Andi, pada tahun 2014 lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%. Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO masih dalam tren penurunan harga yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga ke level terendah bulanan US$ 480 per ton.

FOB Malaysia di sepanjang 2015 dibandingkan harga di sepanjang 2014 yang level terendahnya saat itu tercatat US$ 620 per ton. Data pasar menunjukkan harga CPO pernah mencapai level tertinggi US$ 1.200 per ton di awal 2011.

"Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya dan berhasil mempertahankan produksi kebun inti sawit dan karet. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka," paparnya.

Andi menambahkan, kondisi El-Nino di tahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di kuartal I-2016. kbc10

Bagikan artikel ini: