Takut ada gesekan, Risma haramkan angkutan berbasis aplikasi online

Jum'at, 1 April 2016 | 10:00 WIB ET
Tri Rismaharini
Tri Rismaharini

SURABAYA, kabarbisnis.com: Polemik yang terjadi antara perusahaan angkutan umum dengan usaha angkutan umum berbasis aplikasi dalam jaringan (daring) atau online membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini masih pikir-pikir untuk mengizinkan angkutan umum berbasis aplikasi online tersebut beroperasi di wilayahnya.

Dia beralasan hal itu karena tidak ingin ada gesekan dengan angkutan umum konvensional. "Kalau persaingannya fair gak apa-apa, ini tidak fair, jadi pasti ada gesekan di bawah (antar angkutan)," kata Tri Rismaharini di ruang kerjanya, Kamis (31/3/2016).

Risma mengakui, ada pihak investor yang berencana membangun bisnis taksi online di Surabaya. Namun, hingga kini dirinya belum memberi lampu hijau.

Dia mengaku, masih menunggu peraturan dari pemeritah pusat soal angkutan umum berbasis aplikasi online, sebelum memutuskan untuk mengizinkannya atau tidak. "Kalau tidak gitu, nanti mereka berantem, rebutan penumpang," ujarnya.

Wali kota peremuan pertama di Surabaya ini mengaku tidak fair-nya persaingan tersebut, karena angkutan umum berbasis teknologi itu mendapat subsidi dari perusahaan, sehingga tarifnya lebih murah. "Ini yang bikin persaingan tidak sehat itu," ujarnya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini mengatakan, kondisi angkutan umum, terutama angkot di Surabaya juga terpuruk. Apabila taksi daring beroperasi, kondisi awak angkot akan semakin memprihatinkan.

"Kita kan tahu bagaimana kondisi sopir angkot, jika ditambah itu akan semakin habis," ujarnya.

Risma mengaku, angkutan umum berbasis tehnologi di Surabaya belum mendesak. Menurutnya, kondisi di kota Pahlawan berbeda dengan Jakarta.

Pemkot Surabaya, menurutnya, saat ini justru berencana merevitalisasi angkot. Proses peremajaan dilakukan setelah seluruh angkot bergabung dalam induk koperasi, sesuai dengan aturan yang ada. kbc10

Bagikan artikel ini: