Jika kapasitas industri kelapa olahan optimal, devisa ekspor meroket US$2,4 miliar

Kamis, 21 April 2016 | 17:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia dapat melipatgandakan devisa ekspor dari produk olahan kelapa. Peluang itu dapat diraih apabila pemerintah melarang ekspor buah kelapa segar.

Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) Amrizal mengatakan, devisa ekspor kelapa olahan nasional berpotensi mencapai US$ 2,4 miliar. Peluang devisa ekspor yang besarnya dua kali lipat dari realisasi ekspor tahun lalu sebesar US$ 1,2 miliar bukan mustahil pabila pemerintah berkenaan menutup pintu ekspor buah kelapa segar.

Amerika Serikat, sejumlah negara di Uni Eropa dan Australia menjadi pasar utama ekspor produk kelapa olahan.Minyak kelapa dan nata de coco merupakan produk olahan yang laris di pasar ekspor.

Namun peluang lompatan nilai devisa ekspor sulit dilakukan apabila kapasitas industri kelapa olahan hanya terisi 30-50% akibat kesulitan bahan baku.Ekspor berbahan mentah baik legal maupun ilegal menyebabkan bahan baku tersebut tersedot ke negara tetangga seperti Malayia dan Thailand.

Amrizal menambahkan, penerapan bea keluar juga dapat menjadi opsi pemerintah mengerem ekspor kelapa gelondongan.Amrizal melihat menurunnya produksi buah kelapa segar merupakan fenomena global.

Kondisi ini menyebabkan negara tetangga seperti Thailand, Malaysia bahkan China cukup ekspansif mencari bahan baku buah kelapa hingga ke  Indonesia. Alhasil, industri kelapa olahan nasional kesulitan memperoleh bahan baku.

Berdasarkan Sensus Pertanian, total ketersediaan bahan baku kelapa segar sebanyak 12,9 miliar butir. Sedangkan kebutuhan kelapa untuk 2015 sebanyak 14,63 miliar butir.kbc11

Bagikan artikel ini: