Garap listrik tenaga surya untuk industri, Utomodeck gandeng perusahaan Jepang

Selasa, 3 Mei 2016 | 00:21 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Upaya pemerintah untuk terus mengurangi penggunaan energi fosil dan mengembangkan energi baru terbarukan ditangkap manajemen PT Utomodeck dengan menawarkan komponen listrik tenaga surya khususnya bagi kalangan industri.

Guna mendukung bisnis baru tersebut, perusahaan atap logam tanpa sambungan ini menggandeng perusahaan yang bergerak di bidang bisnis atap tenaga surya asal Jepang, CBC Group.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan langsung oleh owner PT Utomodeck Darmawan Utomo dan Electronic Devices & Materials Divition Tokyo EDM Department New Business Group CBC Group, Katsuhiko Iwamoto.

Hadir juga Toshimichi Koga Deputi Consul General Konjen Jepang di Surabaya dan Kepala BPM Kota Surabaya, Eko Agus Supiadi.

Direktur Operasional dan Marketing PT Utomodeck, Anthony Utomo mengatakan, dalam bisnis baru yang akan dikembangkan tersebut, pihaknya menyiapkan infrastruktur atap bertenaga matahari (solar panel) khususnya untuk segmen industri atau pabrik. Sedangkan CBC Group menyiapkan pembangkit tenaga suryanya.

Bagi pabrik yang ingin menggunakan solar emergency rooftop system atau atap bertenaga surya tidak perlu mengeluarkan biaya termasuk pemasangan. Hanya saja, pabrik harus membeli listrik tenaga surya itu dalam jangka waktu tertentu.

"Kita pasang atapnya, sedangkan alatnya (pembangkit tenaga surya) dari CBC. Tapi harus kontrak membeli listrik kita sampai 25 tahun. Nah, kita juga menggandeng perbankan untuk skema pembiayaan," ujarnya di sela penandatanganan nota kesepahaman dengan CBC Group di Surabaya, Senin (2/5/2016).

Sebagai informasi, biasanya biaya pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan dana besar. Estimasi dana yang dikeluarkan sekitar Rp 20 miliar untuk menghasilkan 1 megawatt dengan luas 7.000 meter persegi.

Dipaparkannya, kerja sama dengan CBC Group merupakan salah satu dukungan terhadap program pemerintah terkait energi terbarukan. Menurutnya, dengan menggunakan tenaga surya, pabrik dapat menghemat biaya operasional listrik sekitar 3 sampai 5 persen.

"Kalau dengan energi surya ini lebih green dan tidak polusi. Selain itu, juga menghemat biaya lebih murah sekitar 3-5 persen dibandingkan dengan PLN. Tapi kita ikuti harga dari PLN. Kalau ada kenaikan, ya kita naikkan. Kalau ada penurunan tarif dari PLN, kita ikut turunkan. Namun kita pastikan harganya selisih 3-5 persen lebih murah dari PLN," ujar Anthony.

Dia yakin, ceruk bisnis ini akan prospektif. Karena sinar matahari di Indonesia masih lebih banyak dan lebih panjang dibanding negara lain. Selain itu, yang memakai solar cell yang masuk kategori green energy ini juga masih sangat sedikit, bahkan diyakini belum ada.

"Apalagi pemerintah sendiri juga mendorong adanya sumber listrik dari energi terbarukan. Salah satunya energi yang bersumber dari matahari," tukasnya.

Manager CBC Co. Ltd, CBC Group, Katsuhiko Iwamoto mengatakan, pembangkit tenaga surya sudah banyak ditemukan di Jepang. Sedangkan, sumber daya alam berupa energi surya di Indonesia, sangat melimpah, namun belum banyak dimanfaatkan.

"Memang di Indonesia ada musim hujan, tapi dibandingkan dengan di Jepang, Indonesia asupan pengolahan energi surya melimpah dan jauh lebih banyak daripada Jepang, karena mataharinya lebih panjang," katanya.

Dengan menggandeng perusahaan lokal, pihaknya berharap sampai akhir tahun ini bisa menjual 5 megawatt ke kawasan pabrik. "Kalau 5 megawatt atau setara dengan 10 pabrik," ujarnya. kbc7

Bagikan artikel ini: