OJK mulai represif terhadap tawaran investasi bodong

Selasa, 24 Mei 2016 | 18:27 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mulai melakukan tindakan represif terhadap pihak-pihak yang berusaha mengambil keuntungan dengan menghimpun dana masyarakat dalam skema investasi bodong.

Kepala Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kantor Regional IV Jatim, Iwan Moses mengatakan selain edukasi yang sudah sering dilakukan, OJK kini juga mulai melakukan tindakan aktif dengan melaporkan para pengelola investasi bodong kepada pihak kepolisian.

“Selain tindakan preventif dengan melakukan sosialisasi mengenai bahaya investasi bodong kepada masyarakat luas, kami juga kini mulai melakukan tindakan aktif dengan melaporkan pihak-pihak yang menghimpun dana masyarakat dengan cara tidak benar yang pada akhirnya menimbulkan kerugian pada masyarakat sendiri,” katanya kepada wartawan di sela Diskusi Jurnalis Surabaya dengan tema Membedakan Investasi dengan Money Game di Restoran Mahameru Surabaya, Selasa (24/5/2016).

Ia mencontohkan, yang terbaru OJK sudah melaporkan pengelola PT Cakrabuana Suskses Indonesia (CSI) yang menghimpun dana mayarakat dengan iming-iming imbal hasil tinggi. CSI yang berbadan hukum Baitul Maal wa Tamwil (BMT) atau koperasi syariah ini terindikasi menawarkan investasi bodong yang bisa mengakibatkan kerugian pada anggotanya.

“Kami dari OJK sudah melakukan investigasi dan hasilnya kami laporkan kepada Satgas Waspada Investasi. Karena indikasi penipuannya cukup kuat kami laporkan ke Bareskrim Polri untuk ditindaklanjuti agar tidak ada masyarakat yang dirugikan dengan investasi semacam ini,” papar Iwan.

Selain PT CSI yang beroperasi di wilayah di Cirebon, OJK juga terus aktif melakukan pengawasan terhadap skema investasi lain yang ditawarkan dengan imbal hasil yang tidak logis dan terindikasi bodong. Salah satunya di Jatim yakni Koperasi Pandawa yang berlokasi di Malang. Koperasi ini menawarkan kepada debitur mereka surat lunas hutang di perbankan dengan embel-embel membayar uang pendaftaran.

Iwan menambahkan, OJK terus menghimbau masyarakat untuk tidak tergiur dengan iming-iming imbal hasil tinggi dengan cara-cara tidak logis. Investasi menurutnya, harusnya dilakukan pada lembaga-lembaga resmi yang sudah terdaftar di otoritas resmi seperti perbankan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Wasiaturrahma, menambahkan dalam beberapa tahun belakangna memang tumbuh susbur investasi-investasi yang hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat dihimbau untuk cerdas mengidentifikasi tawaran investasi yang terindikasi tidak sehat dan tidak rasional.

Menurutnya ada banyak indikasi untuk investasi yang tidak sehat, daintaranya investasi tersebut menjanjikan keuntungana yang tidak wajar, investasi dilakukan pada proyek di luar negeri, menjanjikan bonus barang mewah, memberikan kesan seolah-olah bebas resiko, dan menganut sitim berantai atau dengan istilah member get member.

“Jika masyarakat menemukan tawaran investasi seperti itu, hendaknya langsung ditolak karena itu hanya kedok investasi bodong yang ujung-ujungnya merugikan masyarakat juga,” tegasnya. kbc8

Bagikan artikel ini: