Kilang Tuban beroperasi, impor BBM bakal tergerus 30%

Jum'at, 27 Mei 2016 | 16:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) menyatakan pengoperasian kilang Tuban, Jawa Timur akan menggerus posri impor Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 30 %.Hal itu sangat menguntungkan Indonesia karena mengurangi ketergantungan impor.

Apalagi, kerja sama dengan Rosneft yang bergerak di onstream (operasi) akan lebih dipercepat satu tahun. Demikian Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi di Jakarta, Jumat (27/6/2016).

Rachmad mengatakan, menurut desain pembangunan kilang setelah beroperasi nanti akan memiliki kapasitas produksi mencapai 300 .000 barel per hari (bph). Kapasitas yang termasuk besar ini, hampir 80 % itu adalah Bahan Bakar Minyak (BBM).

Artinya, sekitar 240.000 bph BBM akan diproduksi di dalam kilang yang pembangunannya memakan biaya hingga US$ 13 miliar ini. "Jadi kalau 300.000 (kapasitas kilang), kira-kira BBM-nya sekitar 80 persen, jadi kira-kira 240.000 bph jadi mengurangi sejumlah itu," kata Rachmad.

Rachmad menjelaskan dari produksi BBM tersebut setidaknya dapat mengurangi impor BBM sebanyak 30%. Itu menunjukkan kemandirian energi Indonesia semakin lama semakin baik. "Dan itu setara dengan sekitar 30 persen impor BBM Indonesia," ujar Rachmad.

Dia menambahkan adanya pembangunan kilang yang terbilang cepat. Rosneft menjanjikan desain pembangunan kilang Tuban lebih cepat tujuh hingga 12 bulan. Semula, target onstream kilang 2022 bisa dipercepat 2021.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, dalam penandatanganan kerangka kerja yang dilakukan kemarin, Rosneft menawarkan untuk melakukan share knowledge untuk desain kilang tersebut.

"Rosneft juga tawarkan share yang pada beberapa kebutuhan knowledge termasuk desain di Kilang Baru Tuban bisa dipercepat 7 sampai 12 bulan," kata Dwi.

Dwi juga menuturkan peletakan batu pertama, studi kelayakan, serta joint venture akan dilakukan di 2016. Kemudian, pada 2017 akan dilakukan kegiatan engineering dan groundbreaking secara fisik. Sehingga pada 2018, Engineering Procurement Contract (EPC) dapat dilakukan.

"Dan kalau kita lihat tiga sampai empat tahun proyek ini akan selesai, 2021 kita sudah bisa onstream," ujar Dwi.

Dalam pembangunan kilang ini, Rosneft akan memasok minyak mentah dengan porsi sebesar 45% sedangkan sisanya 55%. Kapasitas kilang Tuban ini diperkirakan mencapai 300.000 barel per hari dengan produksi gasoline sekitar 45%, diesel 30 sampai 35%, dan 15 persen untuk petrochemical.kbc11

Bagikan artikel ini: