Masuki usia ke-3, Unusa bertekad integrasikan dunia pendidikan dan kesehatan

Kamis, 2 Juni 2016 | 18:47 WIB ET
(KB/Purna Budi Nugraha)
(KB/Purna Budi Nugraha)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tekad Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) untuk menjadi yang terbaik terus digelorakan. Melalui berbagai kebijakan strategis, Universitas yang berada dibawah naungan Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) ini berhasil mencatatkan beragam prestasi di dunia pendidikan. Dan kali ini, disaat memasuki usia yang ke-3, Unusa berkomitmen untuk mengintegrasikan dunia pendidikan dan dunia kesehatan.

"Dalam rentan waktu 2010 hinga 2035 Indonesia memiliki bonus demografi, dimana penduduk Indonesia lebih banyak diisi oleh masyarakat usia produktif. Ini benar-benar jadi bonus jika mereka yang berusia produktif itu benar-benar produktif. Dan menurut Ketua Yarsis, Muhammad Nuh, kuncinya ada dua, pertama pendidikan, kepandaian dan kedua kesehatan. Jika mereka tidak memiliki kedua kunci tersebut, maka bonus itu akan menjadi malapetaka. Inilah yang mendasari Unusa bertekat mengintegrasikan pendidikan dengan kesehatan ," tegas Rektor Unusa Prof. Dr. Achmad Jazidie, M.Eng disela pembukaan Dies Natalis Unusa ke-3 di Surabaya, Kamis (2/6/2016).

Dan komitmen tersebut diwujudkan dengan menfokuskan diri sebagai universitas di bidang kesehatan. Terlebih dengan panjangnya pengalaman yang dimulai pada tahun 1979 sebagai Sekolah PendidikanPerawat (SPK), kemudian pada tahun 1985 bertransformasi menjadi Akademi Perawat dan kemudian menjadi Akademi Kebidanan pada tahun 1997 hingga akhirnya pada tahun 2013 menjadi Unusa. Saat ini, Unusa sudah memiliki enam fakultas, tiga fakultas di bidang kesehatan, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat serta Fakultas Keperawatan dan Kebidanan. Sementara tiga fakultas yang lain adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Walaupun demikian, beberapa mata kuliah tetap bersentuhan dengan kesehatan. Selain itu, Unusa juga telah memilihi 14 Prodi yang sebagian besar juga di bidang kesehatan.

"Unusa juga mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk menyelenggarakan program magister S2 keperawatan melalui SK Menristekdikti nomor 193/KPT/I/2016. Ini sangat membanggakan karena tidak banyak Perguruan Tinggi yang mendapatkan kepercayaan tersebut. Di Jatim baru ada dua Perguruan Tinggi dan yang ke tiga adalah Unusa. Dan Unusa adalah satu-satunya perguruan tinggi swasta yang menyelenggarakan S2 Keperawatan di provinsi ini," katanya.

Selain itu, Unusa juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Jurusan Biomedika Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mengembangkan Prodi Teknik Elektro. Kerjasama ini diharapkan bisa menjembatani dalam membuatan peralatan kesehatan yang lebih murah di dalam negeri, misalnya alat fisioterapi atau simulator.

"Harapan kami melalui kerjasama ini bisa bersama-sama mengembangkan peralatan medis seperti simulator untuk fisioterapi dan peralatan medis lainnya. Karena tidak mungkin kita dapat mengembangkan peralatan medis jika tidak ada rumah sakit dan dokter, siapa yang mau mencaba. Kami memiliki rumah sakit dan dokter dan ITS bisa memperkuatnya. Target kami, ini akan terealisasi lima hingga 10 tahun kedepan," tegas Jazidie.

Melalui cara ini, maka Unusa akan dapat mengembangkan peralatan medis yang lebih murah. Misal untuk membeli peralatan simulator fisioterapi impor harganya bisa mencapai Rp 50 juta hingga Rp 60 juta. Padahal jika membuat sendiri, harganya hanya sekitar Rp 15 juta. "Dan jika sudah dilakukan uji klinis di RSI Surabaya dan telah tersertifikasi oleh pihak terkait, maka peralatan itu juga bisa digunakan di rumah sakit lain," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: