Energi primer ketenagalistrikan tak ramah lingkungan, ini yang dilakukan regulator

Rabu, 15 Juni 2016 | 19:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Batu bara sebagai bahan baku energi primer berkontribusi dominan dalam bauran energi nasional khususnya dibidang ketenagalistrikan. Kendati dari sisi harganya paling murah namun disisi tidak dapat dipungkiri juga berdampak menimbulkan polusi.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko mengatakan pemerintah segera mewajibkan kepada seluruh operator Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.Untuk diketahui saja,hingga saat ini batubara masih menjadi penyumbang listrik murah.

Bahkan, pada proyek 35.000 MW, porsi batubara mencapai 60%. Sedangkan, sisanya gas dan kemudian energi baru terbarukan.

"Kita akan dorong semuanya (PLTU) untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan, dengan begitu, listrik bisa murah tapi dampaknya terhadap lingkungan bisa diminimalkan," ujar Sujatmiko di Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Tidak hanya dalam proyek 35.000 MW, dalam RUPTL 2016-2025 yang diserahkan PLN ke pemerintah beberapa waktu lalu juga masih didominasi oleh pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Berdasarkan RUPTL, hingga 2025, pembangkit yang menggunakan batubara akan dibangun sebanyak 50%, gas 24%, EBT 25%, dan BBM 1 persen.

Penggunaan BBM hanya untuk pembangkit sementara di daerah terpencil, kemudian akan diganti EBT. "BBM sifatnya sementara untuk daerah terpencil," katanya.

Sujatmiko menambahkan hingga saat ini Kementerian ESDM masih mengevaluasi RUPTL 2016-2025, ditargetkan pengesahan RUPTL tersebut bisa dilakukan pekan ini.Saat ini, RUPTL tersebut sudah berada di Biro Hukum Kementerian ESDM, dimana sebelumnya dievaluasi oleh Direktorat Ketenagalistrikan Kementerian ESDM.

Kemudian,setelah itu diserahkan ke Menteri ESDM, dan saat ini sudah berada di Biro Hukum untuk membuat konsep draf Peraturan Menteri ESDM untuk penetapan RUPTl 2016-2025.kbc11

Bagikan artikel ini: