Industri busana muslim topang pertumbuhan ekonomi kreatif RI

Jum'at, 24 Juni 2016 | 10:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri busana muslim Tanah AIr terus mengalami perkembangan signifikan. Bahkan, industri ini tercatat menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan dari ekonomi kreatif selain kuliner.

Oleh karenanya, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) bersama sejumlah kementerian terus mendorong percepatan pengembangan industri busana muslim di Indonesia.

"Berdasarkan hasil pertemuan antara KEIN dengan Presiden Joko Widodo, ternyata salah satu sektor yang paling banyak meningkatkan pertumbuhan ekonomi terdapat di bidang industri kreatif," kata Ketua Pokja Industri Kreatif KEIN, Irfan Wahid di Kantor KEIN, Jakarta, Kamis (23/6/2016).

Menurut Irfan, Presiden juga telah menyetujui inisiasi KEIN untuk melakukan pertemuan dengan berbagai lintas kementerian untuk mendiskusikan tentang industri kreatif, khususnya industri busana muslim di Indonesia.

"Sebenarnya, kita juga punya bidang yang berpotensi besar yaitu industri berbasis halal. Namun sayangnya, potensi industri berbasis halal kita di dunia masih di urutan nomor sepuluh, sedangkan di urutan nomor satu adalah negara tetangga, yaitu Malaysia," ungkap Irfan.

Terkait busana muslim, Irfan mengakui bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa. Satu diantaranya, Indonesia merupakan satu dari lima besar negara anggota Organisasi Kerjasama negara Islam (OKI) sebagai pengeskpor busana muslim terbesar selain Bangladesh, Turki, Maroko dan Pakistan.

"Desain dan kualitas produk busana muslim Indonesia juga diakui berdaya saing global, karena mengandung unsur budaya dari batik dan tenun. Namun Indonesia saat ini juga masih menjadi negara dengan peringkat ke-lima pengonsumsi busana muslim tingkat dunia, selaian peringkat tiga besar lainnya yaitu Turki, Uni Emirat Arab dan Nigeria," kata Irfan.

Dia juga menyebutkan, saat ini ada beberapa negara yang bersiap menguasai pasar busana muslim dunia, diantaranya Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Malaysia, Amerika Serikat, Italia, Thailand, Jepang, Italia, Inggris dan Prancis.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan, terkait dengan rencana Indonesia menjadi kiblat busana muslim se-Dunia tahun depan, maka perlu adanya sarana promosi yang juga besar.

"Untuk sarana promosi yang diperlukan adalah database dan katalog industri yang lengkap, dan saat ini sarana tersebut masih kurang. Padahal setiap kita melangkah tentunya harus memiliki angka atau data. Bagaimana kita akan percaya diri untuk menjadi kiblat busana muslim kalau kita tidak tahu posisi Indonesia ada di mana, sudah berapa jauh, apakah memang benar kalau Indonesia tertinggal, padahal belum tentu juga kita benar-benar tertinggal," ujar Euis.

Menurut Euis, pihaknya juga bakal memberikan fasilitas bagi pelaku industri busana muslim untuk ikut fashion show (pameran busana) baik di dalam negeri dan luar negeri. "Terakhir kemarin kita sudah bantu fasilitasi mereka ke Turki, Maroko dan Perancis," jelas Euis. kbc10

Bagikan artikel ini: