Bisnis sehat Lisa sebagai instruktur privat yoga para pesohor

Selasa, 9 Agustus 2016 | 09:21 WIB ET

TIDAK semua orang bisa akrab atau bahkan kenal baik dengan para pesohor negeri ini. Namun hal itu tidak berlaku bagi Lisa Namuri. Ya dia akrab dengan nama-nama seperti Annisa Pohan Yudhoyono, Aliya Rajasa Yudhoyono, Adinda Bakrie, Ike Bakrie, Okke Hatta Rajasa, Reza Rajasa, Laksamana Sukardi, Rethy Aleksandra Sukardi, Alia Jumhur Hidayat, Melinda Aksa, Bianca Adinegoro, Maudy Koesnaedi, Marcella Zalianty dan Syahrini.

Bukan sebagai asisten, teman bisnis atau kawan politik. Namun Lisa bisa dikenal akrab oleh mereka karena sebagai instruktur privat bagi mereka.

Di kalangan sosialita dan selebritas, sosok Lisa memang dikenal sebagai instruktur, khususnya pilates dan yoga yang memiliki jam terbang tinggi dan mengantongi banyak sertifikat, antara lain ActivCore and Neurac Norwegia (2010), STOTT Pilates Canada (2007), Aerobic Fitness American Association (2004), Fitness Institute Australia (2003) dan Reebok University (2001).

Kemampuan mumpuni plus komunikasi interpersonal yang dimilikinya membuat banyak pesohor di negeri ini memercayakan pembentukan tubuh mereka kepada Lisa. Selain deretan nama di atas, Rani Sukardi, Ridho Idrus Marham, Setya Novanto, Happy Salma, Cornelia Agatha, Cut Tari, Becky Tumewu, Christy Jusung dan Nirina Zubir juga menjadi kliennya.

“Awalnya saya mengajar Marcela Zalianty waktu masih di Bandung. Terus ke Jakarta pertama kali pegang Happy Salma. Dari situ, word of mouth-nya cepat,” katanya.

Perjalanan Lisa sebagai instruktur privat boleh dibilang sebuah kebetulan. Awalnya, sekembali dari Negeri Kanguru, Lisa melamar ke studio-studio besar. Pengalaman selama hampir dua tahun menjadi instruktur di Brisbane, Australia, ternyata tak memuluskan langkahnya. “Kebanyakan mereka menolak saya karena saya berjilbab,” ujar Lisa yang menjadi duta merek Wardah.

Saat datang ke seminar yang berkaitan dengan kebugaran, ia juga kerap dianggap aneh. “Di luar negeri malah nggak ada lho yang berpikiran begitu. They are really open as long as you’re good instructor. Religion is another thing. Mereka sangat respek. Saya bisa salat di dalam kelas. They don’t mind at all,” papar Lisa.

Penolakan dari studio besar itu justru melecut semangatnya. Terlebih sebelumnya, ia sudah mengajar Marcela Zalianty dan Happy Salma. Ia memutuskan masuk sebagai instruktur privat. Ia pun mengalokasikan investasi cukup besar untuk membeli berbagai peralatan kebugaran. Pasalnya, ia juga menawarkan alat-alat pilates miliknya ditaruh di rumah klien secara bergantian sesuai dengan kebutuhannya.“Jadi, alat-alat saya tersebar di rumah-rumah klien,” ujarnya.

Dipilihnya cara itu karena Lisa memang menawarkan eksklusivitas. Klien tak perlu keluar rumah dan membeli peralatan yang cukup mahal. “Dia beli waktu saya, kesabaran saya menempuh kemacetan. Saya benar-benar memberikan privasi buat klien di rumahnya,” tambahnya.

Mobilitas para pesohor yang cukup tinggi membuat mereka menyambut antusias tawaran Lisa.

Terpenting, menurutnya, klien harus merasa nyaman. Ia juga harus merepresentasikan “jualannya”. Karena yang dijual jasa pelatihan kebugaran, otomatis bentuk tubuh Lisa juga harus bagus.

“Mau nggak mau orang akan melihat bentuk badan saya. Karena we’re gonna be the role model for our client. Kenapa orang tergila-gila sama cara ngajar Lisa? Bo… anak dua badannya gitu. Ya mau nggak mau, karena itu pekerjaan saya,” ungkap ibu Aisha dan Harby ini.

Menurut Lisa, pilates dan yoga dilirik para sosialita dan selebritas karena bentuk tubuh adalah investasi buat mereka. “Jadi ya wajar kalau misal Syahrini atau Agnes Monica mesti bayar mahal untuk tubuh mereka dan mereka tidak punya banyak waktu,” kata Lisa, yang sempat membangun studio Lisa’s House.

Pilates dan yoga, imbuh dia, adalah olahraga pintar karena menerapkan tubuh sebagaimana mestinya. Pilates dan yoga juga sangat fokus pada pernapasan. “Kalau usia muda sih menurut saya aerobik, jogging, kick boxing atau mungkin apa, itu akan lebih menarik. Karena saya alami sendiri seiring bertambahnya usia, saya merasa pilates dan yoga sangat efektif,” papar istri Mahar Irsan ini.

Dengan membanderol US$ 100-250 per jam dan di studio minimum US$ 65 per jam, Lisa memberikan jasa instruktur privat sesuai dengan kebutuhan klien. “Yang terpenting adalah apa yang mau dicapai: kekuatan, fleksibilitas, kekuatan jantung, atau apa. Atau hanya untuk pelemasan otot, otot yang cedera, itu sudah bisa by design,” paparnya.

Karena itu, lamanya latihan juga tergantung kebutuhan klien, bisa seminggu tiga kali dengan durasi setiap latihan satu jam atau lebih. Menurutnya, seorang instruktur harus bisa mengkreasikan gerakan olah tubuh dan selalu mengikuti tren ilmu tentang anatomi tubuh. “Sekarang pun saya masih selalu meng-update, karena ya kayak bisnis aja deh. Kalau nggak, saya akan kalah bersaing," tandasnya.

Sejak kecil, lulusan Geofisika dan Meteorologi ITB ini memang menyukai aktivitas fisik. Tak heran, ia menguasai berbagai jenis olahraga dan semasa sekolah selalu menjadi pemain andalan di berbagai cabang olahraga. Bahkan, ia sempat menjadi atlet junior sofbol nasional pada 1997-1998. “Saya senang semua kegiatan fisik, baik olahraga maupun tari. Bisa dibilang energi saya berlebih,” ujar kelahiran Jakarta 25 Juli 1980 ini.

Kecintaan pada dunia olah tubuh ini kian menggebu saat ia diminta menjadi asisten guru body language kakaknya yang usai melahirkan. Ketika itu ia sudah kuliah di ITB dan mendapat bayaran Rp 150 ribu per bulan. “Karena saya senang bergerak, ya sudah saya asistenin dia,” ujarnya.

Pengalaman ini menggelitiknya untuk mengetahui seluk-beluk olah tubuh. Ia kemudian mempelajari lagu, ritme dan gerakan dengan googling di Internet. Dari asisten ini, ia lalu membuka studio. Sembari kuliah, ia menjadi instruktur dan penghasilannya bisa mencapai Rp 4,5-5 juta per bulan.

Setelah lulus, Lisa membulatkan tekad untuk menyeriusi dunia olah tubuh. “Inilah saatnya saya mendalami apa yang saya suka. Karena, terus terang, di ITB itu, istilahnya asal ayah saya senang saja. I’m not really into it,” katanya.

Ia lantas terbang ke Australia dan masuk Fitness Institute Australia. Di sana, ia mendapat ilmu tak sekadar gerakan atau menghafal gerakan. “But how we create them over all. Jadi, saya belajar kinesiologi, anatomi dan psikologi klien. Lalu saya belajar bagaimana menghitung ritme lagu, koreografi, denyut jantung maksimum, sampai pertolongan pertama (CPR) pun saya harus punya. Kalau di luar negeri, instruktur tidak bisa sembarangan mengajar, dia harus bisa CPR. Dia juga harus punya asuransi,” papar Lisa yang juga pembawa acara jalan-jalan di sebuah stasiun televisi.

Ke depan, Lisa ingin membuat satu komunitas yang bisa menyebarkan pesan Indonesia untuk menjadi lebih aktif dan sehat. “Saya tidak pernah bosan bilang bahwa tubuh kita adalah investasi terbesar kita,” ujar Lisa yang pernah menjadi anchor di Trans TV dan Kompas TV. Lewat Lisa’s Movement, setiap Sabtu pagi ia menularkan hidup sehat dengan yoga, pilates dan makan raw food.

Bagikan artikel ini: