Pupuk kimia menjadi candu, akankah ketahanan pangan terancam?

Minggu, 21 Agustus 2016 | 22:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Luas bahan baku sawah pertanian  pangan di Tanah Air mencapai 8,1 juta hektare (Ha). Namun, mayoritas kesuburan tanah lahan pertanian terus mengalami penurunan akibat penggunaan pupuk kimia secara massif sejak dijalankannya revolusi hijau pertanian sejak  awal masa Orde Baru.

Direktur Pupuk dan Pestisida Ditjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian Muhrizal Sarwani dalam seminar Pemetaan Kualitas Tanah di Indonesia untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional yang diselenggarakan Universitas Padjajaran, Sumedang, mengakui kondisi lahan pertanian pangan dapat dikatakan mengalami fase kejenuhan. Salah satu indikatornya, kandungan karbon didalam tanah sudah dibawah 2%. Sementara tanah dikatakan subur apabila berisi 2-8% materi organik.  

Muhrizal mengatakan penggunaaan pupuk kimia secara massif terutama di tanaman pangan mengurangi unsur hara dalam tanah.Organisme didalam tanah pun mati karena penggunaan yang melebihi dosis. Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia ini  terungkap dalam sensus Badan Pusat Statistik mengenai Pendataan Usaha Tani 2009 (PUT09).

Sensus itu menyebutkan dari 17,83 juta petani pajale plus tebu, sebanyak  51% petani hanya mengandalkan pupuk anorganik dalam pengelolaan tanahnya. Sementara 33% juga sudah membaurkan dengan penggunaan pupuk majemuk dan organik.Adapun hanya 12 petani saja yang  mau mempertahankan penggunaan pupuk organik.

Khusus tanaman padi, porsinya ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik  mencapai  68%. Profil pemupukan tanah yang dilakukan petani  seperti dalam sensus BPS ini mencerminkan rendahnya unsur hara di lahan pertanian pangan di Tanah Air. Padahal, makin tinggi produksi tanam sedianya semakin banyak membutuhkan  unsur hara.

Namun Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian Muhammad Syakir tidak menjelaskan  secara  tegas sejauhmana dampak kualitas lahan pertanian pangan sehubungan penggunaan pupuk kimia secara massif yang berlangsung selama puluhan tahun. Syakir memberi batasan lahan sub optimal terlihat dari besarnya selisih hasil produksi dari potensi tanamnya.Adapun total luas bahan baku sawah sebesar 8,1 juta Ha, sebesar 4,1 juta Ha itu Syakir juga mengkategorikan lahan kering dan rawa sebagai lahan sub optimal.

Untuk lahan sub optimal ini, sambung Syakir dibutuhkan ekstensifikasi tanam dan porsi penggunaan pupuk yang jauh lebih besar.Guna mendongkrak potensi tanaman, penggunan pupuk organik tetap dibutuhkan .Hanya saja  Syakir memberi catatan pengelolaan tanam harus sesuai good agriculture practices  (GAP) dan kemandirian petani memperoleh dan melakukan pemupukan.Badan Litbang Kementan sendiri sudah menelurkan hasil riset biokomposer  untuk pupuk organik cair yang mampu diproduksi skala massal selama satu pekan.

Guru Besar Bidang Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Universitas Padjajaran Hidayat Salim mengatakan setidaknya ada 13 belas unsur hara yang sangat penting yang didapatkan tanaman dari tanah yaitu N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl , Ni dan Co.Namun, unsur hara ini terbatas karena ia dapat terbawa air infiltrasi,aliran permukaan karena hujan yang deras atau terangkut ketika kegiatan panen.Sementara unsur C, H dan O pembentuk senyawa utama organik tanaman diperoleh dari air dan CO2 melalui aktivitas pengangkutan air dan fotosintesis.

Hidayat mengatakan jalan terbaik menjawab tantangan sistem intensifikasi pertanian modern adalah dengan mengkombinasikan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik secara terintegrasi dan berimbang.Cara ini akan saling mendukung terhadap kesehatan dan kualitas tanah sekaligus produktivitas tanaman secara berkelanjutan.

Kementerian Pertanian menyadari hal ini. Muhrizal menjelaskan kembali, ketika program pupuk bersubsidi yang digulirkan sejak 2003 memiliki arah kebijakan pada pengembangan pemupukan berimbang spesifik lokasi melalui pupuk majemuk dan pupuk organik. Dari data realisasi penggunaan pupuk menyebutkan pupuk jenis urea menurun 2,11%.

”Tapi apabila dirunut sejak tahun 2003, tadinya volume pupuk urea porsinya mencapai 8 juta ton, kemudian berkurang menjadi 6 juta ton. Posisi akhir tahun lalu, volume penggunaan urea hanya 4 juta ton”ujar Muhrizal kepada kabarbisnis.com

Sementara penggunaan pupuk majemuk  (NPK)  tercatat bertumbuh 11,4% .Bahkan pupuk organik 31,66%.”Ketika pupuk organik bersubsidi digulirkan tahun 2008 masih sebesar 69.000 ton, tapi tahun 2015 lalu realisasi penyaluraan sudah hampir 800.000 ton,” ujar Muhrizal.

Pemupukan berimbang merupakan pemberian pupuk bagi tanaman sesuai dengan status hara tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai produktivitas yang optimal dan berkelanjutan. Sayangnya, aku Muhrizal salah satu permasalahan pemupukan berimbang saat ini ada pada adopsi di kalangan petani. Terdapat persepsi yang tidak sesuai penggunaan pupuk berimbang akan mengurangi produktivitas.

“Penyuluh pertanian harus dibekali informasi dan pengetahuan yang benar mengenai pemupukan berimbang. Mereka adalah garda terdepan dalam memberikan pendidikan kepada petani mengenai praktik pertanian yang baik. Contohnya ketika saat mengisi RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) para petani sudah mengalokasikan kebutuhan pupuk sesuai prinsip pemupukan berimbang,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: